Abis baca Kompas edisi hari Rabu (28/1), makin sakit hati aja nih. Dari data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), negeri kita Indonesia hanya menerbitkan rata-rata 10000 judul buku/tahun. Buat negara dgn penduduk 225 juta jiwa, angka ini jelas menyedihkan. Coba kita bandingkan sama negara2 sekitar, Malaysia dengan penduduk jauh lebih sedikit (27 juta jiwa) bisa menerbitkan 8000 judul buku/tahun dan Vietnam dengan penduduk 80 juta jiwa bisa menerbitkan 15000 judul buku/tahun!
Oke, sebagai orang yg berpikir positif, saya beranggapan bahwa terbitnya jumlah buku tidak melambangkan minat baca suatu negara. Karena bisa saja buku yg terbit adalah buku yg kurang bermutu.
Tapi setelah melanjutkan membaca artikel tersebut, jumlah penduduk Indonesia yg gemar membaca hanya berkisar 10-15%. Jumlah ini di bawah Vietnam dan Malaysia!
Saya jadi semakin miris. Sekarang makin banyak yg berseru Indonesia pasti bisa maju, tapi kalo budaya membaca gak dimasukkin ke dalam kehidupan sehari2, gimana majunya?
Perlu kita acungkan jempol pada Vietnam, yang harga buku disana tergolong murah karena disubsidi ama pemerintah. Buku-buku literatur sastra tingkat dunia pun dgn gampang didapat orang-orang Vietnam.
Saya sih punya pendapat, kita semua boleh punya banyak hobi. Mau ndengerin musik kayak saya, main game, main musik, main bola, dll... Tapi menurut saya, hobi 'MEMBACA BUKU' tuh harus wajib. Apalagi buat remaja yang berkembang seumuran saya.
Bagaimana pun, orang yang lebih maju pasti lebih suka membaca. Saya berani taruhan, kebanyakan orang yang jago dalam bidangnya pasti suka baca.
Banyak yg berdalih, peran buku pun bisa diganti oleh hadirnya internet. Saya juga setuju, tapi saya tidak sangat setuju. Dalam arti, informasi juga bisa kita dapatkan di internet, tetapi kita tidak mengetahui kredibilitas dari penulis informasi tersebut setiap kali membaca. Lagipula, ada perbedaan 'X' antara membaca buku dan juga internet. Saya tidak tahu, tapi ada perbedaan tersebut. Ambil contoh kecil : saya baca komik Tintin secara langsung jauh lebih asyik dan lucu ketimbang baca komik hardcopy Tintin di komputer.
Untuk observasi budaya membaca orang Indonesia yg kurang, sebenarnya juga bisa kita amati dalam kehidupan sekitar. Perpustakaan pada sepi, tapi mall jelas rame. Toko buku rame di bagian majalah gosip, daripada literatur. Hahaha... Di ruang keberangkatan pesawat/terminal ferry, juga bisa kita amati! Coba kalau pesawat/kapal ferry yg mau ditumpangi ditunda keberangkatannya, mayoritas orang Indonesia bakal mengeluh, ngomel, protes, dan ngamuk2. Coba amati orang bule kebanyakan, kalo pesawat/kapal ferry ditunda, reaksi mereka bakalan : menyesali kenapa beli tiket kapal/ferry ini, terus buka tas mereka buat ngambil bacaan.
Hal-hal tersebut sepele, tapi itu jelas membudaya dan membuat perbedaan. Saya berani taruhan kok, remaja yg dari awal seneng baca bakal beda drpd remaja yg dari awal gak suka baca.
Pemerintah bisa menaikkan minat baca dgn menyebarkan jumlah perpustakaan di daerah, dan tentu saja memurahkan harga buku. Kelihatannya emang gampang di omongan, tapi memang susah dalam penerapan. I know that. Dan saya perlu angkat jempol lewat usaha pemerintah yg diprakrsai Ibu Ani Yudhoyono meluncurkan mobil pintar.
Jika pemerintah memang kesulitan untuk melakukan hal-hal tersebut, mengapa kita sendiri tidak memulainya? Tiap hari targetkan untuk membaca setidaknya dua artikel headline koran. Targetkan juga membaca satu buku bacaan tiap minggunya, bila berat ya dua halaman bacaan tiap hari!
Ayo semuanya hobi baca! Baca bacaan yg bener!
this blog also can be seen at : http://www.facebook.com/profile.php?id=796922001&v=app_2347471856#/note.php?note_id=50840187476&id=796922001&index=3
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment