15 October 2008
Lama Tidak Ngeblog...
27 September 2008
Susu dan Melamine dari China
Susu yang mengandung melamine dalam dosis tinggi itulah telah mengguncang seluruh China, dimana 53000 balita dipastikan teracuni oleh zat ini, dan kasus ini telah meminta dua korban yang semuanya di bawah umur satu tahun.
Kasus ini membuat dunia internasional semakin tidak percaya akan standar keamanan dan kualitas dari China. Ini merupakan kasus untuk kesekian kalinya, mulai ditariknya produk mainan anak - anak yang dianggap berbahaya hingga masalah produksi ban mobil asal China. Jika ini terlalu sering terjadi, proses pertumbuhan ekonomi China pun bakal terganggu.
Kasus susu produksi 'Sanlu' ini sebenarnya sudah dimulai sejak Olimpiade Beijing 2008. dimana ada komplain dari 'Sanlu' kepada perusahaan produksi, dimana mereka merasa ada yang tidak beres dengan susu mereka. Mereka curiga karena banyak sekali balita yang setelah mengonsumsi susu tersebut, mereka menderita gangguan ginjal dan juga pencernaan. Masalah ini juga sudah dilaporkan kepada pemerintah China, tetapi karena alasan agar tidak menganggu kelancaran olimpiade, masalah ini pun terpaksa ditunda penyelesaiannya.
Tetapi, sayang seribu sayang, masalah ini sudah dapat dibilang terlambat. Pemerintah China boleh dikatakan telah mengorbankan 53.000 lebih balita, yang terserang komplikasi ginjal dan pencernaan. Dua balita pun sudah meninggal dunia akibat masalah ini.
Masalah ini pun tidak hanya menimbulkan dampak skala nasional di China, tetapi juga di dunia internasional. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dunia internasional pun semakin tidak percaya dengan standar kualitas dan keamanan produk asal China.
Untuk saat ini pun, kita harus belajar dari pengalaman sebelumnya. Kita harus mulai hati - hati dengan produk buatan China. Saya tidak mengatakan semuanya buruk, tetapi memang pada umumnya produk asal negeri tirai bambu itu memang mengecewakan.
Kita pun bisa belajar dari masalah ini. China telah memberikan sesuatu yang membuat publik internasional tidak percaya, dan kita pun tidak boleh menirunya. Murah boleh saja, tetapi jujur saja saya lebih memilih barang yang lebih mahal tetapi kualitas dan keamanannya harus berstandar tinggi.
Saya pun akan berpikir tiga kali untuk membeli barang asal China, itu pun kalau ada garansi keselamatannya.
21 September 2008
Jangan Lagi Melupakan Unsung Hero(es)!
Saya sangat menyukai Liverpool FC dan Pat Metheny Group. Keduanya boleh dikatakan sebagai salah satu yang tersukses di bidangnya masing - masing. Liverpool FC adalah tim sepakbola tersukses di Inggris, dengan raihan 18 gelar liga domestik dan 5 kali juara Eropa. Peraihan ini belum bisa disamai oleh klub - klub Inggris lainnya. Sementara Pat Metheny Group bisa dibilang grup musik jazz paling sukses di dunia. Peraihannya tidak main - main, yaitu gelar 11 Grammy, dimana 7 diantaranya diraih secara berurutan.
Lalu kita bicara tentang orang yang berkaitan dengan Liverpool FC atau Pat Metheny Group. Bila kita berbicara tentang Liverpool, pasti nama yang langsung muncul adalah Steven Gerrard sang kapten, tidak Jamie Carragher yang merupakan wakil kapten. Bila berbicara tentang Pat Metheny Group, tentulah nama Pat Metheny yang akan muncul (namanya saja dipajang di nama grup!), bukan sang keyboardist Lyle Mays.
Di klub Liverpool FC, nama Steven Gerrard memang sudah menjadi figur wajib. Sang kapten memang telah berjasa mengantarkan Liverpool menjuarai Liga Champions Eropa pada musim kompetisi 2005. Jasanya pun tidak akan pernah dilupakan fans manapun, karena dia menginspirasi klubnya untuk membalikkan keadaan tertinggal 0-3 dari AC Milan menjadi kemenangan Eropa. Tentulah, Gerrard pantas dan wajar menjadi orang yang paling diingat di Liverpool FC, ketimbang Jamie Carragher.
Tetapi saya tidak bisa pula melupakan nama Carragher, tidak seperti banyak orang yang memang benar - benar memandang sebelah mata Carragher. Dia adalah seorang bek yang cukup kuat dan berpengaruh. Cintanya terhadap Liverpool FC sangatlah besar, dan mungkin lebih besar daripada Gerrard sendiri!
Saya masih ingat ketika Carragher ditanyai wartawan sepakbola, atas rumor pindahnya dia ke Real Madrid pada tahun 2005. Ketika ditanya apakah dia ingin pindah ke Madrid, yang notabene tim yang sangat kaya di dunia, dia malah balik bertanya ke wartawannya. "Mengapa saya pindah? Adakah tim lain yang lebih besar dan lebih saya cintai daripada Liverpool?" Itu membuktikan secara konkrit cintanya kepada tim Liverpool sangatlah besar!
Dan cukup banyak orang yang tidak mengetahui, kemenangan Liverpool di final bukan hanya jasa dari Steven Gerrard, Jerzy Dudek (sang kiper penyelamat), maupun Rafael Benitez sang pelatih. Carragher juga ambil bagian besar dalam pertandingan tersebut. Dia secara mati - matian membantu pertahanan Liverpool, dia pun beroperasi sebagai bek tengah sekaligus bek sayap kanan. Banyak juga fans yang tidak mengetahui, bahwa Dudek yang berhasil menggagalkan dua penalti AC Milan di babak adu penalti, terinspirasi dari kata-kata motivasi Carragher. Dudek mengaku bahwa Carragher mengatakan kepadanya, bahwa inilah saatnya Dudek menjadi pahlawan. "Buatlah dirimu menjadi pahlawan! Kacaukan konsentrasi mereka! Goyangkan kakimu seperti Bruce Grobbelaar (mantan kiper Liverpool yang membantu timnya menjadi juara Liga Champions Eropa tahun 1984)!"
Carragher membuktikan cintanya yang besar kepada Liverpool, tapi dia tidak perlu spotlight dari media. Dia merupakan unsung hero di Liverpool.
Lalu bagaimana dengan Lyle Mays? Prestasi dan jasanya di Pat Metheny Group dan dunia musik benar - benar ditutupi oleh sinar terang benderang koleganya, Pat Metheny. Namun, tanpa kehadiran Lyle, Pat Metheny Group akan menjadi grup jazz luar biasa saja, tidak grup jazz luar luar biasa!
Lyle memiliki visi yang sangat luas dalam hal bermusik. Empat hobinya yang sangat prestigius, yaitu musik, matematika, catur, dan arsitektur, membawanya memiliki pikiran dan visi musikalitas yang luas. Lyle memang tidak seterkenal keyboardist lainnya, tetapi penghargaan yang dia miliki pun sangat mentereng! 11 Grammy telah dia kantongi dan itu tergolong sangat banyak bagi under-rated musician sepertinya.
Pat Metheny Group memang identik dengan Pat Metheny, tetapi Lyle Mays adalah arsitek di balik semua itu. Tuts - tuts piano dan keyboardnya seperti orkestra dan pengiring yang sangat baik bila Pat Metheny melakukan killer solo. Tetapi bukan berarti Lyle tidak menunjukkan kualitasnya sebagai solois, lihat saja karyanya di lagu "As Falls Wichita, So Falls Wichita Falls", "Imaginary Day", "Are You Going With Me?" dimana dia melakukan solo synthesizers! Saya kira hal - hal ajaib seperti itu tidak akan terjadi tanpa Lyle Mays.
Bagi saya, Pat Metheny adalah seseorang yang hebat dan brilian. Tapi Lyle adalah seorang yang jenius. Tanpa kehadiran Lyle, Pat Metheny memang masih hebat dan bagus. Tapi Lyle membantunya dalam memasukki dimensi musik yang lebih dalam dan luas.
Di sekitar kita, banyak sekali unsung heroes. Mungkin orang tersebut juga tidak membutuhkan penghargaan atau menjadi terkenal. Tetapi, mereka harus kita acungi jempol dan menghargai karya mereka. Seperti saya menghargai Jamie Carragher dan Lyle Mays.
Semoga tulisan ringan ini bisa membuat kita berpikir! :)
20 September 2008
Menerima Penolakan
Mengapa hari ini sangat berkesan?
Hari ini saya belajar sesuatu yang sangat penting, yaitu menerima penolakan dari seseorang. Suatu hal yang belum saya alami dan pelajari secara mendalam. Mungkin saya pernah menerima penolakan, tetapi itu tidak sering dan itu terjadi dalam hal - hal kecil.
Pagi ini, saya dan banyak teman sekolah saya dimintai tolong oleh sekolah dan organisasi non-profit Boys' Town. Permintaanya cukup simpel, kami dimintai tolong untuk memegangi kaleng yang menjadi tempat untuk sumbangan dan kami harus meminta sumbangan di tempat - tempat umum Singapura. Sumbangan itu nantinya akan digunakan untuk membantu anak - anak yang kurang beruntung di Singapura.
Jujur saja, saya sangat malas bila meminta - minta sumbangan seperti ini, di tempat umum, apalagi di Singapura! Pikiran negatif mulai menghinggapi saya, dimana saya berpikir jika orang Singapura itu sombongnya minta ampun! Mungkin mereka sangat malas memberi sumbangan - sumbangan seperti ini.
Saya dan tiga teman saya pun memilih tempat di Dhoby Ghaut, sekitar Plaza Singapura. Saya pun memberanikan diri meminta donasi dari orang - orang yang lewat di depan stasiun MRT itu. Dan awal - awalnya memang sangat menakutkan dan mengesalkan! Lima orang pertama yang saya datangi, mereka semua menolak.
Untunglah, keberanian dan ketekunan saya terbayar. Orang - orang yang lewat berikutnya pun semakin tulus saja memberi. Beberapa pejalan kaki yang mukanya seperti tidak mau memberi, ternyata memiliki hati tulus juga. Mereka ikut menyumbang dan tentulah saya gembira dengan hasil ini. Selama sekitar dua jam berdiri, kaleng donasi milik saya pun terisi nyaris penuh. Saya pun kembali ke sekolah dan menyerahkan sumbangan itu.
Setelah itu, saya memang bersyukur telah mengikuti kegiatan seperti ini. Saya belajar bagaimana menerima penolakan dari seseorang. Tidak selamanya penolakan itu buruk, dan memang pasti itu semua akan ada balasannya. Tidak perlulah kita mengharap balasannya, kita pun harus memupuk ketekunan dan kesabaran! Seperti bunyi kalimat bijak, sometimes bad can turn out good. Ditolak orang memang buruk, tetapi pasti ada pelajaran yang dapat dipetik. Saya pun berani menghadapi orang, tanpa takut apakah saya diterima, ditolak, diperhatikan, ataupun dibiarkan saja.
Satu lagi, saya pun merasa orang Singapura tidak pelit - pelit amat! Hehehe...
Semoga tulisan yang sangat ringan ini bisa memberikan sesuatu.
17 September 2008
Masa Depan Hubungan Agama dan Sains
Kontroversi yang muncul pun berhubungan dengan ketidaksediaan Amerika Serikat dalam bekerjasama dalam proyek yang ingin membongkar lebih jauh apa yang terdapat dalam atom itu. Eksperimen yang diprediksi bakal mendekati absolute zero atau 0 derajat kelvin itu memang tidak dikerjakan bersama Amerika Serikat. Tetapi, saya tidak ingin mengupas itu. Saya juga kurang peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya. Saya ingin menulis hal ini, seakan - akan saya berdiskusi dengan Steven Weinberg, ilmuwan Amerika Serikat yang meraih nobel fisika atas jasanya dalam mempelajari interaksi weak force dan elektromagnetik dalam partikel.
Coba kita renungkan, pada zaman dahulu dimana sains masih belum berkembang pesat, kita lebih suka menjawab sesuatu yang belum kita ketahui (baca: misterius) dengan jawaban yang amat religius. Dahulu kala, terjadinya api, kematian, hujan, kelahiran, atau matahari itu masih teka - teki. Jawaban yang dahulu diterima adalah itu semua terjadi karena kehendak Tuhan.
Sekarang pun kita sudah tahu, mengapa pula matahari itu bersinar karena panas yang diproduksi oleh konversi hydrogen yang luar biasa banyak ke helium di pusat matahari. Kita pun paham bahwa hujan itu terjadi karena siklus pergerakan air di bumi. Itu semua bukan karena kehendak yang luar biasa!
Waktu pun terus berlalu, dan kita sudah semakin fasih dalam menjelaskan mengapa sesuatu itu terjadi dalam penjelasan yang sangat naturalistik. Ini bukan berarti bertentangan dengan agama, tetapi yang jelas itu mencabut sesuatu yang dahulu sangat erat kaitannya dengan keberadaan agama.
Pada masa sekarang dan juga masa depan, dimana perkembangan sains akan bertambah pesat dan itu artinya pun akan membongkar banyak sekali rahasia alam, ada titik tertentu dimana kita pun tidak perlu menjelaskan hal - hal yang terjadi dalam definisi agama, melainkan dalam definisi sains.
Saya yakin akan terjadi banyak sekali kontroversial. Mungkin ada religius fanatik yang menolak bahwa hal itu terjadi, dan masih bersikeras menjelaskan bahwa matahari itu bersinar karena kehendak Tuhan, bukan gara - gara konversi hydrogen ke helium. Saya tidak mengatakan agama itu tidak penting atau omong kosong karena semuanya nantinya bisa dijawab pada definisi sains. Bagi banyak sekali orang, agama itu akan menenangkan hati. Agama bisa jadi pegangan hidup. Tetapi, bagi orang peraih nobel seperti Wienberg, yang merupakan yahudi atheis, dia merasa sains akan merusak ritme agama.
Saya sendiri tidak yakin dengan pikirannya, boleh saja kita meniru beberapa sekte di Eropa. Agama hanya akan menyentuh hal - hal yang bersifat pribadi dan rohani, tetapi beberapa kejadian yang terjadi di alam nyata atau pun asal - usul dunia ini dan kehidupan, lebih bagus diserahkan kepada sains.
Agama itu memang pilihan dan relatif, tetapi sains itu definitif.
Semoga ini bisa menjadi bahan pemikiran dan perenungan bagi kita, dan semoga tulisan ini bisa dimengerti!
NB : Terima kasih kepada Steven Weinberg, atas pemikirannya yang revolusioner, meskipun anda atheis dan yahudi!
16 September 2008
Sandal dan Mahatma Gandhi
Sekarang coba kita pikirkan, apa yang akan kita lakukan pada umumnya bila kita naik ke kereta api, terus salah satu sandal yang kita pakai itu terlepas secara tidak sengaja ke rel kereta itu. Celakanya lagi, kereta api yang kita tumpangi itu sudah melaju dan otomatis kita tidak memiliki waktu untuk memungut sandal yang terjatuh itu.
Kita semua pasti akan marah. Jengkel benar! Tentulah pada saat itu juga kita mengumpat tidak karuan, atau juga bisa meratapi nasib celaka itu. Mengapa bisa sandal kita terlepas dan kita pun berubah menjadi badmood dan tentulah mulai menyalahkan keadaan atau diri kita sendiri.
Tapi buat seorang humanitarian sebesar Mahatma Gandhi, itu masalah kecil.
Kejadian yang saya ceritakan di atas itu memang dialami Gandhi, seseorang yang saya anggap benar - benar bijaksana dan berjasa besar kepada India dan dunia. Kejadian itu menimpa dirinya ketika dia menaiki kereta api di India. Secara tidak sengaja, sandal yang beliau kenakan terlepas dan jatuh ke rel kereta api. Kereta api itu sudah berjalan dan dia tidak bisa mengambil sandalnya.
Bukannya mengeluh atau mengumpat, Gandhi malah melemparkan satu sandalnya lagi keluar. Itu artinya, dia sekarang tidak mengenakan sandal samasekali. Orang yang melihat itu heran samasekali. Dan jelaslah orang yang heran itu bertanya kepadanya.
"Mengapa anda membuang satu sandal yang masih bersama anda keluar? Mengapa tidak disimpan saja?"
Gandhi menjawabnya dengan senyum penuh arti. "Saya membuang sandal itu ke rel kereta api itu, karena sandal saya yang satu lagi sudah terjatuh. Ada orang yang tinggal di pinggir rel itu dan dia bisa mendapatkan sepasang sandal, tidak satu sandal."
Saya benar - benar kagum kepada Gandhi. Perbuatan itu memang terlihat kecil, tapi lihatlah secara skala besar. Beliau tidak ingin berlama - lama meratapi nasib, mengumpat, atau menyesal dalam hidup. Beliau langsung memikir sesuatu yang lebih jauh daripada itu. Sandal itu merepresentasikan cara berpikir beliau yang sangat maju dan ingin membuat orang lain mendapat keuntungan.
Coba apa yang dilakukan Gandhi ini, bisa kita praktekkan dalam kehidupan sehari - hari. Tidak hanya membuang sandal saja, tetapi bisa kita lakukan dari segi kehidupan lain. Ini bisa saja, bila kita membantu seseorang, janganlah membantu dengan setengah hati. Bisa kita lakukan dengan sepenuh hati, maka kita pun memberi benefit kepada orang yang membutuhkan.
Ah, saya sangat ingin memiliki pikiran dan hati seperti Gandhi!
Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat atau pencerahan bagi kita semuanya!
15 September 2008
Zamannya Cyberwar, Nih...
Ah, rupanya ini tentang perang Georgia dan Rusia. Ya, mereka sedang berseteru untuk merebut provinsi di Georgia yang ingin memisahkan diri, yaitu Ossetia Selatan. Meskipun mereka berada di wilayah Georgia, tetapi sebagian besar penduduk mereka adalah keturunan asli Rusia. Jadi, tidak heran pula bila mereka ingin berpisah, dan Rusia jelas menyukai keadaan ini. Negara mana yang tidak mau mendapatkan wilayah? Apalagi wilayah itu kabarnya memiliki saluran minyak yang bisa menyalurkan gas ke Azerbaijan hingga Turki. Ini jelas keuntungan yang cukup besar bagi Georgia, dan juga bagi Rusia bila mereka mampu mendapatkan Ossetia Selatan.
'Perang' itu memang sempat terjadi di lapangan, serdadu Rusia pun siap melakukan serangan kepada Georgia, yang tentulah kalah jauh dari segi jumlah tentara dan kemampuan senjata. Untunglah, perang itu tidak terjadi terlalu serius, namun itu bisa saja kembali terjadi secepat mungkin.
Tapi, Rusia pun ternyata sudah melancarkan serangannya jauh - jauh hari! Bukan lewat senapan atau granat, tetapi lewat internet. Sekelompok hacker terkuat Rusia, yang disinyalir mendapat bantuan dan dukungan dari pemerintah Kremlin itu, berhasil mengobok - obok server internet dan juga jaringan di titik strategis di seluruh Georgia. Serangan itu sangat dahsyat, sehingga situs - situs penting pemerintahan milik Georgia gagal difungsikan.
Pengamat cyberwar terkemuka pun yakin ini serangan khusus dari pemerintahan Rusia untuk membombardir Georgia. Hacker - hacker handal ini pun berhasil mencuri beberapa data penting milik Georgia, semacam strategi defensif untuk menangkal tentara Georgia.
Tindakan mengobrak - abrik jaringan internet milik negara lain bukan kali pertama dilakukan Rusia. Sebelumnya, 2007, Estonia adalah korban mereka. Rusia berhasil menghancurkan jaringan internet mereka, sehingga Estonia bisa dikatakan lumpuh internet. Kita tahu sendiri, internet sendiri sudah menjadi bagian penting bagi dunia. Georgia sendiri adalah salah satu pemilik jaringan internet terbesar di Eropa, bila mereka terganggu, ini bisa jadi bencana besar.
Nah, hal ini pun mengindikasikan bahwa zaman perang dunia maya (cyberwar) telah dimulai. Kita pun harus bersiap - siap dengan keadaan ini, meskipun negara kita bolehlah dibilang aman. Tetapi, bayangkanlah bila negara - negara besar itu siap mengobrak - abrik internet kita? Kini perang pun tidak peduli dengan berapa jumlah tentara yang anda punya, tapi berapa jumlah ahli komputer (baca: hacker) yang dimiliki.
Selamat datang di dunia yang benar - benar berbeda! :)
14 September 2008
Musik Itu Indah, Film Juga!
Hari ini, saya menonton film animasi terbesar saat ini, yaitu Wall-E. Membayar tiket sebesar 10 dolar pun buat saya sangat pantas untuk karya sebesar itu. Wall-E bisa dikatakan sebagai calon terkuat sebagai peraih penghargaan Oscar tahun depan. Jalan ceritanya sangat imajinatif, minim dialog tetapi pesannya dapat tersampaikan, serta setting yang sangat menakjubkan.
Setelah menonton, saya mampir dulu ke HMV untuk membeli CD musik yang memang pantas untuk dibeli. Pilihan saya pun jatuh kepada karya legendaris milik John Dowland, yang dinyanyikan lagi oleh penyanyi Inggris, Sting ditemani pemain lute, Edin Karamazov. Musik yang bertemakan klasik romantik ala Britania Raya ini mampu menyihir saya selama saya mendengarkan, malam ini.
Setelah puas mendengarkan Sting dan Edin Karamazov, saya kembali mendengarkan musisi favorit saya sepanjang masa, Pat Metheny. Tidak pernah saya kehilanga kekaguman atas kehebatannya dalam bermusik.
Lalu, sekarang apa hubungannya Wall-E, Sting, Edin Karamazov, John Dowland, dan Pat Metheny?
Saya benar - benar salut dengan beberapa teman saya yang dengan berbangga hati menuliskan kata 'menonton film' dalam daftar hobi mereka. Sebut saja, Dion Haryadi atau pun Maria Yovita. (Hahaha).
Mengapa saya salut? Nonton film kan memang gampang?
Ya... Saya salut karena mereka juga menekuni hobi mereka dengan baik. Saya masih ingat dengan kebiasaan Dion dulu semasa bersekolah dengan saya, dia menghabiskan uang jajannya untuk membeli majalah film. Mungkin, bagi banyak orang itu sama saja dengan memboroskan duit. Tapi, buat saya itu bagus. Itu artinya dia menekuni hobi dengan baik! Begitu juga dengan Maria Yovita contohnya, seingat saya dia sangat rajin meminjam DVD dan bahkan menonton film - film lama yang klasik.
Saya tidak heran bila Dion nantinya menjadi sutradara. Hobi bila ditekuni dengan baik, bisa membuahkan hasil maksimal.
Hobi menonton film bisa salah satu hobi yang baik. Lain lagi dengan saya misalnya, yang juga maniak dalam mendengarkan musik. Saya bisa merasa tidak enak bila tidak mendengarkan setiap harinya. Jadwal saya untuk mendengarkan musik adalah setiap bangun pagi, pulang sekolah, sore hari, dan juga sebelum tidur. Bagi saya, mendengarkan musik adalah anugerah. Saya juga amat menikmati mengoleksi album - album jazz dan klasik. Sangat jarang ada orang yang bisa menikmati musik, apalagi musik yang kurang populer semacam jazz atau klasik. Saya merasa 'bodoh amat' bila mendengarkan orang lain kalau saya aneh dan juga tidak normal karena lebih memilih mendengarkan musisi - musisi yang namanya kurang terkenal, semacam Pat Metheny atau Keith Jarrett, ketimbang mendengarkan musisi - musisi 'pasaran' secama Dewa, Nidji, atau pun Kangen Band.
Sebagai penutup, memiliki hobi itu bagus sekali. Apalagi bila ditekuni secara baik - baik. Saya sudah mengalaminya. Mungkin banyak orang mengatakan gila untuk menekuni hobi - hobi yang kurang lazim.
Seperti memancing misalnya.
Berburu.
Mengoleksi sesuatu.
Bermain game.
Berolahraga.
Atau pun,
seperti Dion yang suka nonton film.
Atau saya yang maniak musik.
Bagi saya, musik itu indah, film juga!
Punya hobi itu asyik, lebih asyik lagi kalau ditekuni! Dinikmati!!!
Hehehe...
13 September 2008
Bagi Singapura, Medali Itu Masih Ditunggu....
Bagi Indonesia, hasil yang diraih juga tidak bisa dikatakan jelek. Kita patut berterima kasih kepada Markis Kido dan Hendra Setiawan, yang mampu meraih medali emas satu - satunya dengan cara menumbangkan pemain tuan rumah di final bulutangkis ganda putra. Medali perak yang diraih oleh pasangan ganda campuran bulutangkis kita, Lilyana Natsir dan Nova Widianto juga patut dibanggakan. Medali perunggu yang diraih Maria Kristin di cabang bulutangkis tunggal putri membuat kita bisa berbangga hati, karena sudah lama kita tidak meraih medali dari atlet putri kita. Jasa dua atlet angkat besi kita yang juga mampu mendapatkan medali perunggu, tidak boleh kita lupakan. Secara total, 1 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu mampu kita raih. Perolehan ini hanya kalah dari negara Asia Tenggara lainnya, Thailand yang mampu mendulang 2 emas. Negara tetangga kita yang lain, Malaysia dan Singapura hanya mampu membawa pulang 1 medali perak.
Berbicara tentang perolehan medali Singapura, arti medali perak itu sangat besar bagi mereka. Itulah medali pertama mereka sejak tahun 1960, dan medali perak itulah yang menjadi medali olimpiade kedua mereka sepanjang sejarah. Medali perak itu dapat diraih setelah tim tenis meja putri mereka mampu mencapai final tenis meja beregu putri sebelum akhirnya kalah dari favorit juara China.
Medali pertama sejak 48 tahun mestinya disambut dengan gegap gempita di seluruh Singapura. Tapi, saya hanya melihat, pemerintahan saja yang gembira dengan hasil ini. Ada apa gerangan?
Rupanya yang meraih medali itu bukanlah orang asli Singapura, tapi naturalisasi dari China. Pantaslah bila medali yang diraih itu tidak sepenuhnya milik Singapura.
Simak saja, apa yang dikatakan beberapa orang Singapura. "Buat saya, kami (orang Singapura) masih menunggu untuk mendapat medali..."
Ketika saya tanya teman - teman saya, bagaimana rasanya setelah mendapatkan medali untuk pertama kalinya dalam 48 tahun, ini reaksinya:
"Hahaha... Kamu aneh, final tenis meja itu kan China lawan China, pemain kita kan dari China."
"Saya tidak bangga, lebih bagus kita menunggu untuk 52 tahun ke depan..."
"Saya lebih memilih kita tidak dapat medali."
"Lebih bagus anak India yang dapat medali buat Singapura!"
Yah, bagi Singapura memang medali itu masih ditunggu... Kita lihat, atlet mereka hampir semuanya hasil naturalisasi.
Untunglah bagi kita, Indonesia yang memang hancur begini, setidaknya bisa menjaga tradisi meraih medali (medali emas malah!) sejak olimpiade 1992. Bagi Singapura, meraih satu medali begitu beratnya....
Ayo berbangga!
03 September 2008
Tentang Indonesiaku Sekarang
Teman,
apakah kalian bangga memiliki Indonesia yang...
negara kepulauan terluas sedunia?
luasnya hampir sebesar benua Eropa (minus Rusia)?
memiliki garis pantai terpanjang sedunia?
memiliki pulau - pulau yang termasuk 5 pulau terbesar di dunia?
menyatukan banyak suku bangsa yang merupakan terbanyak di dunia (740 suku)?
memiliki banyak sekali bahasa daerah (583 bahasa), tetapi hanya satu bahasa pemersatu?
berazaskan pancasila?
merupakan salah satu pendiri organisasi ASEAN?
memiliki pulau terpadat di dunia?
memiliki candi budha terbesar di dunia?
menjadi negara pertama yang lahir setelah perang dunia II?
menjadi negara tertua ke-70 sedunia?
menjadi juara piala bulutangkis Thomas Cup terbanyak sedunia?
menjadi produsen pala dan cengkeh terbesar di dunia?
menjadi pengekspor kayu lapis terbesar di dunia?
memiliki terumbu karang terkaya di dunia (18% total dunia)?
mempunyai spesies ikan hiu terbanyak di dunia (150 spesies)?
mempunyai biodiversitas anggrek terbanyak di dunia (6 ribu jenis)?
memiliki hutan bakau terbesar di dunia?
memiliki binatang purba satu - satunya di dunia, komodo?
memelihara bunga terbesar di dunia, Rafflesia Arnoldi?
memiliki primata terkecil, tarsius pimilus yang sebesar 10 cm?
mempunyai ular python terbesar di dunia?
mempunyai ikan terkecil dunia, sepanjang 7.9 mm?
menjuarai banyak sekali olimpiade ilmu alam internasional?
menjadi tempat lahir satu-satunya alat musik orkestra perkusi melodis, gamelan?
memiliki penduduk muslim terbanyak sedunia, tetapi kita bukan negara muslim?
mempunyai dua stadion sepakbola terbesar di Asia Tenggara, yaitu di Jakarta dan Palembang?
menjaga tradisi selalu meraih medali emas sejak olimpiade 1992 hingga sekarang?
memiliki grup musik Guruh Gipsy yang diakui hingga Eropa?
memiliki rekaman musik tradisional yang menjadi rekor dunia, karena album itu dijual seharga US$1000?
memiliki sastrawan Pramoedya Ananta Toer - satu-satunya sastrawan Asia Tenggara yang dinominasikan ke hadiah nobel?
Kita punya banyak sekali hal untuk berbangga hati karena Indonesia.
Tetapi, kita juga punya banyak hal untuk malu...
Kita malu karena Indonesia yang...
dinobatkan sebagai salah satu negara terkorup sedunia?
diberi rekor dunia sebagai negara pengrusak hutan tercepat di dunia?
sering diacuhkan di dunia internasional?
maskapai penerbangannya dilarang terbang ke Eropa karena tidak aman?
memiliki catatan buruk dalam kecelakaan penerbangan?
banyak sekali kekayaan budayanya dicuri negara lain?
dua pulaunya, Sipadan dan Ligitan, dicuri Malaysia?
sering terjadi konflik antar-agama?
memiliki penduduk kurang toleransi beragama?
punya jalanan macet?
punya kota Jakarta, yang dinobatkan sebagai kota termahal kedua se-Asia Tenggara?
mempunyai jalan tol tergenang banjir?
kecolongan dua kali dalam kasus bom bali?
dicap sebagai negara terorisme?
mutu pendidikan rendah, meskipun banyak orang pintarnya?
kurang fasilitas?
dulu pengimpor beras terbesar, sekarang pengekspor beras?
tidak bisa berbuat apa-apa ketika harga minyak naik, padahal kita penghasil minyak?
keluar dari OPEC?
memiliki banyak sekali media tidak mendidik?
bisa memenangi turnamen sepakbola internasional dengan cara memukuli pelatih tim lawan sehingga tim lawan tidak mau melanjutkan pertandingan?
mempunyai budaya anarkisme, tidak cinta damai?
meminta semua restoran memasang tirai agar orang yang berpuasa tidak terganggu?
rata - rata semua orangnya tidak bisa tepat waktu?
dinobatkan sebagai negara dengan peringkat no 103 dari 149 negara, sebagai negara paling hijau?
lebih suka mengurusi urusan kecil - kecil daripada urusan yang lebih besar?
rakyatnya suka membesar - besarkan masalah?
menyelenggarakan pemilu 2009 dengan 38 partai politik?
rakyatnya lebih suka membaca berita pemerkosaan daripada pengetahuan?
jarang dibicarakan di dunia internasional?
pengendara di jalan umumnya jarang sekali tertib?
penghasil minyak dan gas, tetapi listrik di rumah sering mati?
Ah Indonesia...
Engkau sangat kaya akan potensi
Tapi miskin potensi
Kita sebagai rakyat masih bisa terus berbangga.
Tapi engkau jarang berikan kami kebangaan...
Engkau berikan hanya kebusukan dan kebusukan
Kami juga sering memberi kebusukan
Lama - lama negara ini busuk
Mundur.
Ayo maju Indonesia.
Mulai dari hal - hal kecil kita sebagai rakyat
Jangan terus mengkritik orang
Mengkritik diri sendiri lebih bagus
Ayo ciptakan target
Lakukan sesuatu
Kita semua ingin Indonesia jauh lebih bagus daripada Indonesia yang sekarang
Kita tidak butuh pemimpin muda
Kita juga tidak butuh pemimpin muka lama
Kami hanya ingin
pemimpin yang memiliki visi ke depan
jujur
dan
tegas
Maju Indonesia
Vincentius Aji Jatikusumo, 3 Sept 2008
13 May 2008
Ujian Nasional -Langkah Mundur Indonesia?
Ujian Nasional adalah sebuah ujian yang menjadi indikator kemampuan murid - murid se-Indonesia, indikator yang dipakai pemerintah untuk melihat bagaimana wajah pendidikan Indonesia sekarang.
Tetapi bila indikator itu hanya berupa empat hari ujian dengan masing - masing ujian terdiri dari 50 soal pilihan berganda apakah itu sebuah indikator paling tepat untuk pendidikan kita, yang semakin hari semakin mundur? Sejauh apakah ujian nasional itu membantu wajah pendidikan Indonesia ini?
Saya sangatlah heran, mengapa pemerintah kita hanya mementingkan hasil yang instan ketimbang proses. Mereka gemar menghambur - hamburkan uang untuk soal ujian nasional ketimbang membenahi sistem pendidikan dan infrastruktur di seluruh Indonesia.
Jika penentu kelulusan seorang siswa dari SMP dan SMA hanyalah dari Ujian Nasional yang berupa 50 soal pilihan berganda, tidaklah mengherankan bila sekolah sekarang berubah fungsi, dari tempat belajar-mengajar menjadi tempat untuk latihan soal. Jika semua pelajar di Indonesia hanya berlatih soal di sekolah, lalu dimanakah proses belajar mengajar itu akan ada? Dan dimana pula bibit - bibit unggul itu tercipta bila sistemnya tidak memadai seperti ini?
Soal ujian nasional itu adalah pilihan berganda dan jelas saja, soal itu bisa sukses bila kita rajin menghafal bahan - bahan dengan sepenuh hati. Sialnya, menghafal adalah proses belajar tingkat paling rendah. Artinya, siswa di Indonesia mungkin hanya mumpuni dalam kemampuan menghafal saja. Tingkat tertinggi dari belajar adalah evaluasi dan memberi penyelesaian dalam suatu masalah. Dimana, soal ini tidak bisa saya temukan dalam ujian nasional tahun berapapun.
Membaca artikel di Kompas (12 Mei 2008), saya membaca seorang kritikus mengkritik tentang ujian nasional Bahasa Indonesia. Bagi saya, ini masuk akal. Yang namanya ujian bahasa, semua peserta ujian harus menulis, membaca, dan berbicara! Ujian nasional dikatakan mengetes ketiga aspek tersebut, padahal jika diteliti hanya aspek membaca saja. Jadi, tidak bisa kita bilang kalau seorang siswa hebat di Bahasa Indonesia karena lulus Ujian Nasional, padahal dua aspek lain tidak dites secara mumpuni.
Ujian matematika pun setali tiga uang. Kalau dilihat dari prinsip kehidupan dan matematika, hasil akhir itu sebenarnya tidak begitu penting. Aspek paling penting itu adalah aplikasinya. Apakah siswa di Indonesia mampu mengaplikasikan pelajaran matematika ke dalam kehidupan mereka? Sayangnya, di ujian nasional, mereka hanya diuji untuk mendapatkan hasil akhir dan tidak jelas pula caranya bagaimana.
Sistem ujian ini jika saya lihat sangatlah berbeda dengan sistem ujian negara tetangga kita, Singapura. Saya sudah bersekolah disini selama hampir 6 bulan dan saya melihat betapa berbedanya kualitas ujian di Singapura. Ujian mid-semester disini bahkan jauh lebih menantang (saya tidak mengatakan susah) ketimbang ujian nasional di Indonesia!
Kita contohkan saja ujian matematika. Di Singapura, tidak ada namanya pilihan ganda dalam ujian matematika. Tiap peserta ujian diberi dua kertas soal, yang mesti dikerjakan. Kertas pertama hanyalah soal yang bisa dikatakan 'straightforward', dimana kita tinggal mengaplikasikan rumus atau memencet kalkulator saja. Kertas yang kedua, siswa diberikan soal yang menguji konsep pemikiran kita. Bila kita tidak tahu konsep dan tidak bisa berpikir kreatif, maka tamatlah perjuangan kita. Ujian nasional di Indonesia sungguh kontras, para peserta ujian hanya diberikan 50 pilihan ganda dengan waktu yang panjang pula. Mereka pun memiliki waktu yang banyak untuk menghitung dan mengecek berulang kali.
Jika kita melihat ujian di Singapura, sistem pendidikan mereka jelas merangsang mereka untuk berpikir kreatif dan tidak hanya sekedar hafalan saja. Pemerintah Singapura sadar benar, bila pendidikan itu sangat penting bagi sebuah negara. Sekolah di SIngapura sangatlah megah dan fasilitasnya amat lengkap. Tentu, ini bertolak belakang bila kita lihat sekolah di Indonesia, dimana di daerah terpencil mereka pun tidak memiliki bangunan yang memadai.
Ada baiknya pemerintah untuk sekarang memperhatikan pendidikan kita. Nasib bangsa ini ditentukan oleh generasi penerus yang masih bersekolah sekarang. Bila mereka tidak bisa berpikir kreatif karena tidak dibiasakan, dan malah cenderung membebek karena belajar hafalan, mau dibawa kemana bangsa ini?
Untuk saat ini, yang paling penting buat Indonesia bukanlah ekonomi, pemerintahan, perdagangan, konflik tidak jelas, dan lain-lain. Yang terpenting sekarang adalah pendidikan. Ada baiknya pemerintah menghapus lelucon ujian nasional dan mulailah membenahi infrastruktur pendidikan di Indonesia. Saya percaya sekali, orang Indonesia itu sangat pintar, tapi sayang sistem pendidikannya tidak memadai.
Maju, Indonesiaku!
Ketika "Nike" jadi "Tienpo"
Saya pulang dari imigrasi di daerah Lavender sana menggunakan jasa MRT (Mass Rapid Transit). Turun di stasiun Bedok, saya langsung melompat ke terminal bus yang sangat ramai. Maklum, Bedok bisa dikatakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, di bagian timur. Disini ada pasar, hawker centre, MRT station, terminal bus, sampai toko - toko kelontong. Harganya pun lumayan murah bagi ukuran Singapura.
Ketika berjalan tersebut ke terminal, saya melihat - lihat orang sekitar, dan pandangan saya tertancap kepada pasangan yang tengah berjalan mesra. Wah, memang orang Singapura sudah biasa dengan beginian. Never mind. Saya pun terus melihat mereka, dan tanpa sengaja penglihatan saya terpaku pada bagian belakang baju si cowok.
Dari jauh sudah terlihat, ada lambang centang, dan hampir semua orang tahu kalo ada lambang centang kayak gitu, itu logonya apparel terkenal dari Amerika Serikat, "Nike".
Ketika saya hendak menyalip pasangan yang kasmaran tersebut, bujugile, ternyata saya salah tangkap. Logo boleh sama, ternyata agak dipanjangin sedikit centangnya, dan di bawah logo tersebut terpampang nama China, "Tienpo".
Saya pun menyalip mereka, dan melihat sekejap bagian depan baju si cowok. Bajunya berwarna biru, dan memang desainnya mirip sekali dengan "Nike".
Saya pun tertawa kecil. Saya pun jadi ingat negara di Asia Timur sana, yang berpenduduk milyaran itu, dan memang sekarang mereka maju. Tapi, ironis, jadi pusat 'bajakan' dunia.
Masih segar di ingatan saya, dimana ketika saya berlibur ke Beijing di Agustus 2006, dan Shenzen di Juli 2007, dan tentu saja banyak sekali barang tiruan disana.
Teringat jelas! Bagaimana merek terkenal dan kesukaan saya, "Adidas" berubah jadi "Abidas" dan tetap dengan three stripes - Adidas yang dipatenkan itu.
Belum lagi, mainan favorit saya saat kelas SD, yaitu "Tamiya". Brand itu berasal dari Jepang dan jadi primadona di mainan mobil - mobilan berdinamo anak kecil dan remaja. Tapi, oleh negeri Tirai Bambu secara singkat dirubah jadi "Tamida".
Bahkan, secara nekat pula, banyak sekali brand - brand yang namanya tidak diubah dan buat palsuannya, Semuanya. Mulai dari barang kecil sampai besar!
Saya dan kakak saya jadi korbannya. Tergiur dengan i-pod yang dijual hanya 50 Yuan saja (Rp 50 ribu). Desainnya memang sangat mirip! Bahkan kotaknya ditulis "from Apple in America". Wah, keyakinan saya tambah berlipat ganda. Tetapi seusai sampai di Indonesia, i-pod keluaran China itu hanya bertahan seminggu.
Ketika saya "berkonsultasi" masalah ini kepada paman saya, dengan santai dia berkata dengan bahasa jawa. "Wong cino iku gak iso nggawe sing elemen-e cilik - cilik. Lek nang asia Jepang iku sing teruji. Lek cino, yo ojo dituku. Mereka iso nggawe sing gede - gede, elek pisan!" Jika diterjemahkan: "Orang China itu tidak bisa membuat yang elemennya kecil - kecil. Kalo di Asia, Jepang itu yang sudah teruji. Kalau (buatan) China, ya jangan dibeli. Mereka itu bisanya membuat yang besar - besar, tapi jelek juga!"
Hahaha!!!
Dasar "made in China!"
* * *
Barang buatan China memang sudah menyerbu ke seluruh dunia. Dari pensil, permen, sampai mobil. Sasarannya tidak hanya di benua Asia sendiri, tapi juga menyebrang ke Eropa, Australia, Amerika, dan Afrika.
Di sisi buruk, saya turut mencela mereka membuat barang - barang tiruan yang kualitasnya amat sangat buruk.
Di sisi baik, saya kagum pada mereka. Karena, mereka dulu 'divonis' jadi negara miskin total, namun sekarang jadi pusat bisnis dan perdagangan. Bahasa Mandarin milik mereka pun didaulat jadi 'bahasa perdagangan'.
Tapi saya tidak kaget juga, China itu bak naga yang tertidur, dan kini pun sudah terbangun. Saya jadi saksi mata mereka ketika berkunjung ke negara mereka dalam rangka liburan. Bolehlah saya bilang, mereka hampir memiliki semuanya.
Sejarah mereka terkuat. Tidak salah bila mereka dikatakan salah satu sejarah tertua di dunia, disamping Mesir dan Yunani.
Orang - orangnya sangat banyak. Milyaran, penduduk terbanyak di dunia.
Saya melihat bagaimana kota Beijing yang begitu padat.
Turis - turis terus berdatangan, bahkan tidak ada istilah 'low season' , karena buat mereka semuanya 'high season'
Mengapa turis berdatangan? Objek - objek wisata mereka memang jempolan. Dari Tembok Besar, Summer Palace, sampai Ming's Tomb memang selalu membuat saya menggeleng - gelengkan kepala.
Olahraga? Bulutangkis mereka nomor satu.
Dan sekarang ekonomi mereka bangkit...
Olimpiade Beijing 2008 pun kurang dari setahun...
Lalu, apakah yang bisa kita petik sebagai keuntungan dari kebangkitan 'naga' ini?
* * *
China tentu mengirim 'barang - barang' mereka melalui jalur laut. Dan tentunya, kita sebagai negara yang memiliki laut luas, bisa memetik keuntungan dari sini.
Jalan sutera tentu tidak bisa lagi dipakai oleh China untuk mengirimkan barang mereka. Dan mereka, kemungkinan besar, memakai Selat Melaka untuk jalan menuju Eropa dan Timur Tengah. Lalu, mengapa tidak kita siapkan pelabuhan untuk persinggahan mereka, tepatnya pelabuhan kargo yang nyaman dengan harga bersaing dari Singapura dan Malaysia?
Saya kira hal ini amat penting untuk dipikirkan. Mengingat letak geografis yang amat menguntungkan Indonesia.
Sejak dahulu kita belajar, bahwa letak geografis Indonesia sangatlah strategis. Di antara samudera Hindia dan Pasifik, serta diantara Benua Asia dan Australia. Lantas, buat apalah terus memuja tersebut bila tidak ada bukti yang konkrit?
Mestinya kapal - kapal penuh 'barang tiruan' dari China yang menuju ke Eropa, India, atau Timur Tengah itu, harus bisa bersinggah di Indonesia.
Singgah bukan berarti gratis lho, tapi sekali singgah, duit bertaburan buat Indonesia.
Nabi Past, Present, dan Future
Saya kira terlalu naif bila pengertian nabi adalah orang yang dipercaya Tuhan dan bisa melakukan hal - hal ajaib, semacam membelah air laut, berpuasa amat lama di gurun yang panasnya ekstrim, membangkitkan orang mati, atau hal lain sebagainya. Ya, itu nabi memang, tapi tidak sesempit itu pengertiannya, terlebih zaman sekarang bukanlah zaman 'batu' lagi.
Malah, menurut saya nabi zaman sekarang itu orang yang berguna bagi masyarakat luas dan sudah ketemu apa yang mereka cari dalam hidup. Nabi-nabi yang tertulis di kitab suci bisa dikatakan sebagai past tense. Udah lama. Dan menurut saya, nabi - nabi sekarang itu bukanlah mereka lagi, tapi orang lain. Bisalah kita sebut Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Wright Bersaudara, Louis Pasteur, Alfred Bernard-Nobel, Muhammad Yunus, Bunda Theresa, James Watt, Bill Gates, Henry Ford, pencipta pesawat - pesawat sekarang, komputer - komputer, televisi, radio, handphone sebagai present nabi.
Janganlah terlalu naif, dengan menyebut mereka tidak nabi. Bagi saya, mereka nabi. Bagi saya, agama mereka adalah agama yang tidak terdefinisi.
Cobalah kita bayangkan tanpa Edison, apa yang akan terjadi dengan kita. Malam hari jadi neraka bagi kita. Bayangkanlah! Dengan lampu buatannya, kita bisa membuat malam hari lebih berarti bagi kita. Kita bisa belajar di malam hari, nonton, makan, tanpa merasa gelap. Ini berkat Edison. Temuannya ini terjadi dari ratusan percobaan yang gagal! Berilah tepuk tangan baginya!
Wright Bersaudara? Apa yang terjadi bila tidak ada mereka... Kalau kita mau pergi berlibur mungkin hanya bisa lewat kapal dan kita pun dibuat mabuk oleh ombak yang sangat deras. Bagaimana kita bisa mengamankan negara kita tanpa pesawat tempur, dan dari kerja merekalah kita bisa menikmati buatan sempurna mereka.
Louis Pasteur? Tidak ada dia di dunia ini, kita tidak bisa mencicipi renyahnya snack yang dikemas rapi di dalam kemasan. Dialah yang menciptakan agar makanan tidak busuk. Susu sapi yang kita minum tiap hari ada gara - gara proses yang dinamakan pasteurisasi. Bila tidak ada prores tersebut, jadilah kita minum susu dengan memerah sendiri di peternakan. Mau?
Bunda Theresa bisa jadi orang yang perlu kita teladani. Ungkapannya yang terkenal adalah: "Berilah sampai kamu merasa sakit!" Ya, dia memberi bantuan bagi kaum miskin di India dengan sepenuh hati, sampai dia sendiri merasa kesakitan dan kelaparan. Tapi Tuhan pun turun tangan dan memberi dia bantuan.
Tidak ada pencipta komputer dan Bill Gates? Ah lupakanlah saja blog - blog ini. Kita tidak bisa menikmati betapa mudahnya hidup di dunia ini dalam komputer. Mereka adalah nabi!
Muhammad Yunus - tokoh favorit ibu saya - dimana dia membantu kaum miskin Bangladesh dengan otaknya, memikirkan format pinjaman bagi mereka, dan tidaklah salah bila komite Nobel mengganjarnya dengan nobel perdamaian 2006. Dia berkata: "Janganlah mengucap damai kalau masih banyak orang yang miskin." Ya, dia nabi. Dia ingin menghapus kemiskinan untuk mencapai kedamaian, setidaknya di negerinya sendiri. Apakah kita tentram bila dunia ini damai? Ya!
Pencipta handphone, televisi, radio, mobil, dan lain sebagainya. Ah, saya berani bertaruh sebagian besar manusia yang hidup di dunia ini amat tergantung dengan benda - benda seperti itu. Bila tidak ada yang menciptakan itu, mau jadi apa hidup kita?
Jadi, pantaslah kita menyebut mereka semua nabi. Dan saya kira, bila mereka terus berbuat baik dan tahu apa yang harus mereka perbuat dalam waktu mereka hidup di dunia ini, saya yakin... bila surga dan neraka memang ada... satu tiket ke surga sudah di-booking oleh mereka. Hahaha!!!!
Ya, mereka adalah nabi sekarang. Tapi, beberapa tahun kedepan mereka sudah jadi past lagi. Dan, kesempatan untuk menjadi nabi future pun terbuka lebar bagi siapapun kita. Masih sangat sangat amat sangat banyak yang bisa kita lakukan untuk semuanya di waktu kedepan.
Bukankah nantinya pencipta energi pengganti bahan bakar fosil bisa disebut nabi?
Bukankah nantinya orang yang berusaha untuk perdamaian di dunia ini juga bisa disebut nabi?
Masih banyak terbuka lebar. Jadi waktu yang sekarang ini, haruslah kita pergunakan untuk terus belajar dan belajar dan tetaplah rendah hati.
Dan lupakanlah saja agung - agungan kepada past nabi, karena memang tidaklah berguna hanya memuja - muja. Bukanlah lebih baik dan brilian bila berbuat sesuatu sekarang juga untuk masyarakat banyak dan dunia ini, yang semakin krtisis saja?
Hidup ini indah. Live it, or leave it.
The First Circle - dedicated to Indonesian Musicians
Akhir – akhir ini, saya kembali tergila – gila oleh lagu “First Circle” yang dikumandangkan Pat Metheny Group dalam album ‘First Circle’ (1984) yang berhasil meraih penghargaan Grammy dalam kategori Best Jazz Fusion Recording Vocal or Instrumental, yang merupakan penghargaan Grammy ketiga dari sepuluh yang berhasil mereka raih.
Saya memang menggilai Pat Metheny dan Grupnya. Lagu ‘First Circle’ ini memang jempolan. Pat Metheny, bermain gitar akustik dalam lagu ini. Sementara Lyle Mays memperlihatkan kemahiran piano dan keyboard-nya. Paul Wertico menggebuk drums dalam lagu ini, sementara Steve Rodby membetot bas dan vokalis Pedro Aznar yang menurut saya memiliki suara emas, menyanyi tanpa lirik.
Lagu ini memang amat sangat brilian, dan mungkin anda bisa mengakuinya setelah mendengarkan lagu ini, baik anda jazz-lover maupun bukan.
Tapi, saya menulis tulisan ini bukan untuk review lagu ini, saya ingin menulis, apa yang saya inginkan dari musisi Indonesia,
* * *
Pat Metheny Group, pengumpul 10 Grammy Awards dari 12 album mereka, memang besar dari andil Pat Metheny sang gitaris dan Lyle Mays sang keyboardist. Sementara itu, Pat Metheny sendiri mengumpulkan 17 Grammy (termasuk 10 Grammy di Pat Metheny Group) dari banyak kategori, selama kariernya dari tahun 1975.
Pat Metheny, gitaris kelahiran Kansas, 12 Agustus 1954 ini memang legenda di dunia jazz pada umumnya, dunia jazz kontemporer – fusion pada khususnya. Gitaris yang identik dengan baju setrip – setrip acap kali naik panggung ini, amat mahir memainkan segala gitar. Mulai dari gitar akustik, elektrik, bariton, soprano, 12 senar, 16 senar, synthesizer, hingga 42 senar.
Metheny, ini adalah salah satu lambang musisi yang drop – out dari pendidikan musik. Dia keluar dari salah satu universitas di kotanya, namun karena pengalamannya sejak kecil yang sering bermain jam session dengan bermacam – macam orkestra di kotanya dan luar kotanya, sehingga dia memiliki jam terbang yang sangat tinggi, dibandingkan teman – temannya di universitasnya.
Adalah vibraphonist terkenal Gary Burton, yang melihat bakat dan jam terbangnya, sehingga menawarkan ‘kerjaan’ dosen musik di University of Miami. Atas itulah, dia jadi dosen termuda di universitas itu, yakni 18 tahun. Tahun depannya, giliran ia mengajar di Berkeley College of Music. Sebagai info tambahan, gitar jazz Mike Stern adalah muridnya di Berkeley.
Mengajar adalah kerja sambilannya, karena dia juga terdaftar sebagai anggota Gary Burton Quartet, sebagai gitaris tentunya. Lalu, dia memutuskan keluar dan merintis karier solonya, dan menelurkan album pertamanya Bright Size Life bersama bassist kenamaaan Jaco Pastorius dan drummer Bob Moses. Album ini langsung menuai banyak pujian. Akhirnya, kapasitasnya pun semakin teruji, hingga dia pun melahirkan Pat Metheny Group bersama keyboardist temannya Lyle Mays.
Pat Metheny Group adalah band jazz fusion – kontemporer terbesar di dunia, tidak ada band jazz sebesar mereka. Hit – hit andalan mereka berkisar dari “Are You Going With Me?” hingga “Minuano (Six Eight). Mereka pun menuai 10 Grammy!
Oke, cukup dengan profilnya.
Lalu apa yang bisa kita petik dari karier Pat Metheny?
Adik kandung pemain flugel-horn Mike Metheny ini, terkenal sebagai musisi yang amat sangat kreatif, terus belajar, cerdas, konsisten dan cerdik di dunia.
Kreatif. Saya tidak bisa menghitung berapa lagu yang sudah dia ciptakan selama dia hidup. Semenjak dia gabung di Gary Burton Quartet, dia sudah menciptakan lagu buat grup tersebut hingga sekarang album – albumnya. Jikalau dia memakai lagu ciptaan orang lain (tidak termasuk lagu ciptaanya bersama Lyle Mays), itu hanya dirubah bagian improvisasinya saja.
Terus belajar. Pat tidak pernah puas akan kemampuan instrumentalisnya. Sejak album pertamanya muncul, dia sudah tahu bermain gitar akustik, elektrik, 12 senar, dan 16 senar, hingga gitar harpa. Namun, dia terus belajar dan belajar, hingga dia bisa menguasai gitar synthesizer (sangat sedikit gitaris yang mau menggunakan gitar ini, karena mencari sound di gitar ini amat sangat sulit), gitar synclavier, gitar slide, gitar baritone, gitar soprano, gitar sitar, hingga 42-senar gitar! Dia juga mempelajari gaya musik di daerah lain. Dia belajar komposisi musik di Eropa, Afrika, Kamboja, India, China, hingga Indonesia (gamelannya, yang bisa didengar di album Imaginary Day).
Dia juga seorang komposer yang hebat. Dia tidak hanya asal – asalan mencipta lagu, namun dia mencipta dengan cerdas. Jika anda mencoba bermain karya – karyanya, saya pastikan tangan anda bakal repot karena dia sangat gemar mengubah kord dan tempo yang sangat – sangat indah jika didengarkan.
Dua hal terakhir, adalah hal yang sangat membedakan Metheny dengan musisi jazz dan genre lainnya.
Konsisten dan cerdik.
Dia sangat konsisten. 120 – 240 rata – rata konser per tahun, siapa yang sanggup melakukannya begitu konsisten? Jika dibayangkan, hampir tiap hari dia melakukan konser dari tempat ke tempat! Namun, bukan berarti jadwal tur yang padat membuat pembuatan album macet. Jika ditilik dari karier solonya dimulai dan jumlah album yang ia buat, ia berkarier dari 1976 hingga sekarang, yaitu 32 tahun (sampai 2008 hitungannya), tapi jumlah albumnya sudah mencapai 36 album! Album itu belum termasuk album – album lain yang dia tampil sebagai guest musician semacam dia tampil di saxophonist alm. Michael Brecker, Anna Maria Jopek, Abbey Lincoln, dan lain sebagainya. Saya belum melihat artis lain di genre manapun yang bisa menyamai konsistensi Metheny.
Cerdik? Dia cerdik melihat pasar jazz dan dia cerdik memilih talenta.
Vibraphonist Gary Burton secara terang – terangan memujinya. “Dia seorang yang amat hebat di dunia jazz, dan juga bisa melihat pasar jazz hingga setiap albumnya nyaris sukses terus.”
Ya, sukses di pasaran dan juga di ajang Grammy Awards. Ini terbukti dari 17 Grammy Awards dan selalu mendapat platinum di album yang terjual.
Cerdik melihat talenta? Saya kira semua jazz-lover setuju dengan anggapan ini. Siapa yang tidak terpana seusai mendengar dan melihat talenta – talenta musisi yang direkrut Metheny, mulai Nana Vasconcelos, Pedro Aznar, Mark Ledford, hingga yang paling gress, Antonio Sanchez. Bisa jadi telinganya yang amat hebat men-judge kemampuan bermusik seseorang membuat kariernya sukses. Sebagai komparasi, Chick Corea kadangkala salah merekrut orang sehingga albumnya kadang – kadang keok.
* * * *
Ya, saya ingin sekali musisi – musisi Indonesia menjiwai kariernya seperti Pat Metheny. Benar – benar total di musik. Saya tidak peduli genre apapun, mau jazz, dangdut, hingga metal rock. Saya tidak peduli.
Saya amat menyayangkan budaya pop yang terjadi di dunia musik negara kita (dan juga terjadi di Hollywood sana). Siapa yang tidak kenal dulu band Slank, Jamrud, Sheila On 7, Padi, dan Dewa dulu, di jaman akhir 90-an. Namun sekarang? Jeblok.
Karena apa? Tidak konsisten. Mereka terlalu lama tidak membuat album, sekitar rentangan tiga tahun, sehingga fans bosan dan berpaling ke band dan musisi lain. Kecuali Dewa, yang masih tetap eksis dan saya salut dengan mereka karena mereka cukup konsisten, dan band ini bisa jadi role model di Indonesia.
Maka hadirlah Peterpan, Radja, Nidji. Mereka memang melejit, hingga ke negeri tetangga. Lagu – lagu jadi ‘lagu nasional’ hampir semua orang bisa menyanyikan lagu mereka secara fasih. Namun sekarang? Menukik.
Peterpan hancur gara – gara konflik di dalam tubuh mereka sendiri. Jika dibandingkan dengan Pat Metheny Group, yang kerap berganti – ganti personil, tapi mereka tetap akur karena pada falsafahnya, musisi jazz tidak boleh bermain pada itu – itu saja, mesti bermain dengan setiap orang. Intinya, “more jam session”.
Radja? Mereka tidak kreatif. Lagunya amat gampang, dan malah dituduh mencontek dari lagu di India sana. Mencontek boleh saja, tapi jangan mencontek benar – benaran! Mesti diimprovisasi! Bahkan, saya pernah mendengar lagu andalan mereka, yaitu ‘Tulus’ dan ‘Jujur’, dan saya berpikir bahwa kedua lagu ini sama persis, cuma beda lirik.
Nidji? Yah... Begitu – begitu saja. Sepertinya lagu mereka tidak terkonsep, dan semua fans hanya ngefans dengan vokalis Giring. Ini bukan musik namanya, tapi sinetron.
Dan kebanyakan musisi – musisi Indonesia memang begitu dan saya getir melihatnya. Jika anda perhatikan, musisi – musisi Indonesia hanya beken lewat satu – dua lagu, melesat, tenar, terus gara – gara tidak konsisten dan tidak berkonsep, langsung menukik tajam semacam meteor. Inilah yang saya sebut dengan budaya pop.
Maka dari itulah, saya meminta kepada semua musisi Indonesia, jadilah lebih kreatif. Tirulah nilai – nilai dari Pat Metheny, jikalau anda tidak suka musiknya.
Sangat jarang musisi yang bisa eksis dan stabil selama tiga puluh satu tahun.
Banyak – banyaklah bermain dengan banyak musisi, dan sebelum mendirikan band atau berkarier solo, tolonglah buatlah konsep.
Jangan jadikan dunia musik Indonesia hanya jadi budaya pop, musik pop, itu – itu saja. Bosan. Lirik selalu bernafaskan cinta.
Jadilah kreatif. Bikin musik yang lebih hidup, lain tema, tidak melulu cinta, dan tidak terus – terusan berkonsep band. Kalau perlu sekali – sekali, coba saja dirikan band dengan gamelan, kulintang, sama beduk. Wah, siapa tahu kalau memang konsepnya jelas, bisa meledak di Indonesia dan dunia!
Mestinya kita tahu, musik – musik tradisional Indonesia sangat banyak dan tidak terhitung, mengapa kita tidak mengeksplorasinya dan tidak melulu bermain musik pop? Kalaupun bisa, campurkanlah musik pop itu dengan tradisional, sehingga nama genre kalian jadi pop fusionjazz fusion).
Kalau mau juga, mainkanlah jazz dan klasik, yang tidak sembarang orang bisa suka karena bukan easy listening. Jangan melulu bermain pop, rock, hip – hop, rap, yang kalau saya bilang musik tersebut sudah banyak yang bisa!
Saya tidak ingin, dunia musik kita jadi arena meteor. Banyak yang melesat, banyak juga yang menukik tajam. Saya ingin, ada musisi Indonesia jadi the first circle, yang melompat ke atas dan terus menggelinding di atas, dan nantinya diikuti jadi the next circle. Saya ingin melihat itu, dan saya juga berusaha menjadi itu.
Hidup musik Indonesia, dan stop pembajakan!
