13 May 2008

Ujian Nasional -Langkah Mundur Indonesia?

Ujian Nasional 2008 untuk jenjang SMA dan SMP sudah berakhir di Indonesia, tetapi beban para siswa - siswi yang masih duduk di jenjang kelas 3 SMP dan 3 SMA juga belumlah berakhir. Mereka masih harus menatap Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan juga Ujian Praktek, yang diselenggarakan sekolah mereka masing - masing.

Ujian Nasional adalah sebuah ujian yang menjadi indikator kemampuan murid - murid se-Indonesia, indikator yang dipakai pemerintah untuk melihat bagaimana wajah pendidikan Indonesia sekarang.

Tetapi bila indikator itu hanya berupa empat hari ujian dengan masing - masing ujian terdiri dari 50 soal pilihan berganda apakah itu sebuah indikator paling tepat untuk pendidikan kita, yang semakin hari semakin mundur? Sejauh apakah ujian nasional itu membantu wajah pendidikan Indonesia ini?

Saya sangatlah heran, mengapa pemerintah kita hanya mementingkan hasil yang instan ketimbang proses. Mereka gemar menghambur - hamburkan uang untuk soal ujian nasional ketimbang membenahi sistem pendidikan dan infrastruktur di seluruh Indonesia.

Jika penentu kelulusan seorang siswa dari SMP dan SMA hanyalah dari Ujian Nasional yang berupa 50 soal pilihan berganda, tidaklah mengherankan bila sekolah sekarang berubah fungsi, dari tempat belajar-mengajar menjadi tempat untuk latihan soal. Jika semua pelajar di Indonesia hanya berlatih soal di sekolah, lalu dimanakah proses belajar mengajar itu akan ada? Dan dimana pula bibit - bibit unggul itu tercipta bila sistemnya tidak memadai seperti ini?

Soal ujian nasional itu adalah pilihan berganda dan jelas saja, soal itu bisa sukses bila kita rajin menghafal bahan - bahan dengan sepenuh hati. Sialnya, menghafal adalah proses belajar tingkat paling rendah. Artinya, siswa di Indonesia mungkin hanya mumpuni dalam kemampuan menghafal saja. Tingkat tertinggi dari belajar adalah evaluasi dan memberi penyelesaian dalam suatu masalah. Dimana, soal ini tidak bisa saya temukan dalam ujian nasional tahun berapapun.

Membaca artikel di Kompas (12 Mei 2008), saya membaca seorang kritikus mengkritik tentang ujian nasional Bahasa Indonesia. Bagi saya, ini masuk akal. Yang namanya ujian bahasa, semua peserta ujian harus menulis, membaca, dan berbicara! Ujian nasional dikatakan mengetes ketiga aspek tersebut, padahal jika diteliti hanya aspek membaca saja. Jadi, tidak bisa kita bilang kalau seorang siswa hebat di Bahasa Indonesia karena lulus Ujian Nasional, padahal dua aspek lain tidak dites secara mumpuni.

Ujian matematika pun setali tiga uang. Kalau dilihat dari prinsip kehidupan dan matematika, hasil akhir itu sebenarnya tidak begitu penting. Aspek paling penting itu adalah aplikasinya. Apakah siswa di Indonesia mampu mengaplikasikan pelajaran matematika ke dalam kehidupan mereka? Sayangnya, di ujian nasional, mereka hanya diuji untuk mendapatkan hasil akhir dan tidak jelas pula caranya bagaimana.

Sistem ujian ini jika saya lihat sangatlah berbeda dengan sistem ujian negara tetangga kita, Singapura. Saya sudah bersekolah disini selama hampir 6 bulan dan saya melihat betapa berbedanya kualitas ujian di Singapura. Ujian mid-semester disini bahkan jauh lebih menantang (saya tidak mengatakan susah) ketimbang ujian nasional di Indonesia!

Kita contohkan saja ujian matematika. Di Singapura, tidak ada namanya pilihan ganda dalam ujian matematika. Tiap peserta ujian diberi dua kertas soal, yang mesti dikerjakan. Kertas pertama hanyalah soal yang bisa dikatakan 'straightforward', dimana kita tinggal mengaplikasikan rumus atau memencet kalkulator saja. Kertas yang kedua, siswa diberikan soal yang menguji konsep pemikiran kita. Bila kita tidak tahu konsep dan tidak bisa berpikir kreatif, maka tamatlah perjuangan kita. Ujian nasional di Indonesia sungguh kontras, para peserta ujian hanya diberikan 50 pilihan ganda dengan waktu yang panjang pula. Mereka pun memiliki waktu yang banyak untuk menghitung dan mengecek berulang kali.

Jika kita melihat ujian di Singapura, sistem pendidikan mereka jelas merangsang mereka untuk berpikir kreatif dan tidak hanya sekedar hafalan saja. Pemerintah Singapura sadar benar, bila pendidikan itu sangat penting bagi sebuah negara. Sekolah di SIngapura sangatlah megah dan fasilitasnya amat lengkap. Tentu, ini bertolak belakang bila kita lihat sekolah di Indonesia, dimana di daerah terpencil mereka pun tidak memiliki bangunan yang memadai.

Ada baiknya pemerintah untuk sekarang memperhatikan pendidikan kita. Nasib bangsa ini ditentukan oleh generasi penerus yang masih bersekolah sekarang. Bila mereka tidak bisa berpikir kreatif karena tidak dibiasakan, dan malah cenderung membebek karena belajar hafalan, mau dibawa kemana bangsa ini?

Untuk saat ini, yang paling penting buat Indonesia bukanlah ekonomi, pemerintahan, perdagangan, konflik tidak jelas, dan lain-lain. Yang terpenting sekarang adalah pendidikan. Ada baiknya pemerintah menghapus lelucon ujian nasional dan mulailah membenahi infrastruktur pendidikan di Indonesia. Saya percaya sekali, orang Indonesia itu sangat pintar, tapi sayang sistem pendidikannya tidak memadai.

Maju, Indonesiaku!

Ketika "Nike" jadi "Tienpo"

Tanggal 29 November 2007, saya berhasil mendapatkan student pass dari negara Singapura, dan artinya pun saya resmi dan diperbolehkan untuk menuntut ilmu disini. Wah, mimpi yang terombang - ambing selama kurang lebih empat bulan pun sampai juga. Saya bisa bersekolah disini, dan berharap bisa mencapai cita - cita saya.
Saya pulang dari imigrasi di daerah Lavender sana menggunakan jasa MRT (Mass Rapid Transit). Turun di stasiun Bedok, saya langsung melompat ke terminal bus yang sangat ramai. Maklum, Bedok bisa dikatakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, di bagian timur. Disini ada pasar, hawker centre, MRT station, terminal bus, sampai toko - toko kelontong. Harganya pun lumayan murah bagi ukuran Singapura.
Ketika berjalan tersebut ke terminal, saya melihat - lihat orang sekitar, dan pandangan saya tertancap kepada pasangan yang tengah berjalan mesra. Wah, memang orang Singapura sudah biasa dengan beginian. Never mind. Saya pun terus melihat mereka, dan tanpa sengaja penglihatan saya terpaku pada bagian belakang baju si cowok.
Dari jauh sudah terlihat, ada lambang centang, dan hampir semua orang tahu kalo ada lambang centang kayak gitu, itu logonya apparel terkenal dari Amerika Serikat, "Nike".
Ketika saya hendak menyalip pasangan yang kasmaran tersebut, bujugile, ternyata saya salah tangkap. Logo boleh sama, ternyata agak dipanjangin sedikit centangnya, dan di bawah logo tersebut terpampang nama China, "Tienpo".
Saya pun menyalip mereka, dan melihat sekejap bagian depan baju si cowok. Bajunya berwarna biru, dan memang desainnya mirip sekali dengan "Nike".
Saya pun tertawa kecil. Saya pun jadi ingat negara di Asia Timur sana, yang berpenduduk milyaran itu, dan memang sekarang mereka maju. Tapi, ironis, jadi pusat 'bajakan' dunia.
Masih segar di ingatan saya, dimana ketika saya berlibur ke Beijing di Agustus 2006, dan Shenzen di Juli 2007, dan tentu saja banyak sekali barang tiruan disana.
Teringat jelas! Bagaimana merek terkenal dan kesukaan saya, "Adidas" berubah jadi "Abidas" dan tetap dengan three stripes - Adidas yang dipatenkan itu.
Belum lagi, mainan favorit saya saat kelas SD, yaitu "Tamiya". Brand itu berasal dari Jepang dan jadi primadona di mainan mobil - mobilan berdinamo anak kecil dan remaja. Tapi, oleh negeri Tirai Bambu secara singkat dirubah jadi "Tamida".
Bahkan, secara nekat pula, banyak sekali brand - brand yang namanya tidak diubah dan buat palsuannya, Semuanya. Mulai dari barang kecil sampai besar!
Saya dan kakak saya jadi korbannya. Tergiur dengan i-pod yang dijual hanya 50 Yuan saja (Rp 50 ribu). Desainnya memang sangat mirip! Bahkan kotaknya ditulis "from Apple in America". Wah, keyakinan saya tambah berlipat ganda. Tetapi seusai sampai di Indonesia, i-pod keluaran China itu hanya bertahan seminggu.
Ketika saya "berkonsultasi" masalah ini kepada paman saya, dengan santai dia berkata dengan bahasa jawa. "Wong cino iku gak iso nggawe sing elemen-e cilik - cilik. Lek nang asia Jepang iku sing teruji. Lek cino, yo ojo dituku. Mereka iso nggawe sing gede - gede, elek pisan!" Jika diterjemahkan: "Orang China itu tidak bisa membuat yang elemennya kecil - kecil. Kalo di Asia, Jepang itu yang sudah teruji. Kalau (buatan) China, ya jangan dibeli. Mereka itu bisanya membuat yang besar - besar, tapi jelek juga!"
Hahaha!!!

Dasar "made in China!"

* * *

Barang buatan China memang sudah menyerbu ke seluruh dunia. Dari pensil, permen, sampai mobil. Sasarannya tidak hanya di benua Asia sendiri, tapi juga menyebrang ke Eropa, Australia, Amerika, dan Afrika.
Di sisi buruk, saya turut mencela mereka membuat barang - barang tiruan yang kualitasnya amat sangat buruk.
Di sisi baik, saya kagum pada mereka. Karena, mereka dulu 'divonis' jadi negara miskin total, namun sekarang jadi pusat bisnis dan perdagangan. Bahasa Mandarin milik mereka pun didaulat jadi 'bahasa perdagangan'.
Tapi saya tidak kaget juga, China itu bak naga yang tertidur, dan kini pun sudah terbangun. Saya jadi saksi mata mereka ketika berkunjung ke negara mereka dalam rangka liburan. Bolehlah saya bilang, mereka hampir memiliki semuanya.
Sejarah mereka terkuat. Tidak salah bila mereka dikatakan salah satu sejarah tertua di dunia, disamping Mesir dan Yunani.
Orang - orangnya sangat banyak. Milyaran, penduduk terbanyak di dunia.
Saya melihat bagaimana kota Beijing yang begitu padat.
Turis - turis terus berdatangan, bahkan tidak ada istilah 'low season' , karena buat mereka semuanya 'high season'
Mengapa turis berdatangan? Objek - objek wisata mereka memang jempolan. Dari Tembok Besar, Summer Palace, sampai Ming's Tomb memang selalu membuat saya menggeleng - gelengkan kepala.
Olahraga? Bulutangkis mereka nomor satu.
Dan sekarang ekonomi mereka bangkit...
Olimpiade Beijing 2008 pun kurang dari setahun...

Lalu, apakah yang bisa kita petik sebagai keuntungan dari kebangkitan 'naga' ini?

* * *

China tentu mengirim 'barang - barang' mereka melalui jalur laut. Dan tentunya, kita sebagai negara yang memiliki laut luas, bisa memetik keuntungan dari sini.
Jalan sutera tentu tidak bisa lagi dipakai oleh China untuk mengirimkan barang mereka. Dan mereka, kemungkinan besar, memakai Selat Melaka untuk jalan menuju Eropa dan Timur Tengah. Lalu, mengapa tidak kita siapkan pelabuhan untuk persinggahan mereka, tepatnya pelabuhan kargo yang nyaman dengan harga bersaing dari Singapura dan Malaysia?
Saya kira hal ini amat penting untuk dipikirkan. Mengingat letak geografis yang amat menguntungkan Indonesia.
Sejak dahulu kita belajar, bahwa letak geografis Indonesia sangatlah strategis. Di antara samudera Hindia dan Pasifik, serta diantara Benua Asia dan Australia. Lantas, buat apalah terus memuja tersebut bila tidak ada bukti yang konkrit?
Mestinya kapal - kapal penuh 'barang tiruan' dari China yang menuju ke Eropa, India, atau Timur Tengah itu, harus bisa bersinggah di Indonesia.
Singgah bukan berarti gratis lho, tapi sekali singgah, duit bertaburan buat Indonesia.

Nabi Past, Present, dan Future

Pelajaran Agama bisa jadi bukanlah subjek favorit saya selama mengenyam pendidikan di Batam, Indonesia. Bukannya saya bersifat atheis atau tidak mengakui Tuhan, tapi jujur saja, saya bosan dengan sejarah - sejarah panjang para nabi atau kejadian - kejadian yang dibaca dari kitab suci. Bagi saya, itu tak penting, selama kita hanya membaca dan memuja saja. Bukankah lebih berarti bila mengambil hikmah pentingnya saja, lalu kita aplikasikan pada hidup sehari - hari kita.
Saya kira terlalu naif bila pengertian nabi adalah orang yang dipercaya Tuhan dan bisa melakukan hal - hal ajaib, semacam membelah air laut, berpuasa amat lama di gurun yang panasnya ekstrim, membangkitkan orang mati, atau hal lain sebagainya. Ya, itu nabi memang, tapi tidak sesempit itu pengertiannya, terlebih zaman sekarang bukanlah zaman 'batu' lagi.
Malah, menurut saya nabi zaman sekarang itu orang yang berguna bagi masyarakat luas dan sudah ketemu apa yang mereka cari dalam hidup. Nabi-nabi yang tertulis di kitab suci bisa dikatakan sebagai past tense. Udah lama. Dan menurut saya, nabi - nabi sekarang itu bukanlah mereka lagi, tapi orang lain. Bisalah kita sebut Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Wright Bersaudara, Louis Pasteur, Alfred Bernard-Nobel, Muhammad Yunus, Bunda Theresa, James Watt, Bill Gates, Henry Ford, pencipta pesawat - pesawat sekarang, komputer - komputer, televisi, radio, handphone sebagai present nabi.
Janganlah terlalu naif, dengan menyebut mereka tidak nabi. Bagi saya, mereka nabi. Bagi saya, agama mereka adalah agama yang tidak terdefinisi.
Cobalah kita bayangkan tanpa Edison, apa yang akan terjadi dengan kita. Malam hari jadi neraka bagi kita. Bayangkanlah! Dengan lampu buatannya, kita bisa membuat malam hari lebih berarti bagi kita. Kita bisa belajar di malam hari, nonton, makan, tanpa merasa gelap. Ini berkat Edison. Temuannya ini terjadi dari ratusan percobaan yang gagal! Berilah tepuk tangan baginya!
Wright Bersaudara? Apa yang terjadi bila tidak ada mereka... Kalau kita mau pergi berlibur mungkin hanya bisa lewat kapal dan kita pun dibuat mabuk oleh ombak yang sangat deras. Bagaimana kita bisa mengamankan negara kita tanpa pesawat tempur, dan dari kerja merekalah kita bisa menikmati buatan sempurna mereka.
Louis Pasteur? Tidak ada dia di dunia ini, kita tidak bisa mencicipi renyahnya snack yang dikemas rapi di dalam kemasan. Dialah yang menciptakan agar makanan tidak busuk. Susu sapi yang kita minum tiap hari ada gara - gara proses yang dinamakan pasteurisasi. Bila tidak ada prores tersebut, jadilah kita minum susu dengan memerah sendiri di peternakan. Mau?
Bunda Theresa bisa jadi orang yang perlu kita teladani. Ungkapannya yang terkenal adalah: "Berilah sampai kamu merasa sakit!" Ya, dia memberi bantuan bagi kaum miskin di India dengan sepenuh hati, sampai dia sendiri merasa kesakitan dan kelaparan. Tapi Tuhan pun turun tangan dan memberi dia bantuan.
Tidak ada pencipta komputer dan Bill Gates? Ah lupakanlah saja blog - blog ini. Kita tidak bisa menikmati betapa mudahnya hidup di dunia ini dalam komputer. Mereka adalah nabi!
Muhammad Yunus - tokoh favorit ibu saya - dimana dia membantu kaum miskin Bangladesh dengan otaknya, memikirkan format pinjaman bagi mereka, dan tidaklah salah bila komite Nobel mengganjarnya dengan nobel perdamaian 2006. Dia berkata: "Janganlah mengucap damai kalau masih banyak orang yang miskin." Ya, dia nabi. Dia ingin menghapus kemiskinan untuk mencapai kedamaian, setidaknya di negerinya sendiri. Apakah kita tentram bila dunia ini damai? Ya!
Pencipta handphone, televisi, radio, mobil, dan lain sebagainya. Ah, saya berani bertaruh sebagian besar manusia yang hidup di dunia ini amat tergantung dengan benda - benda seperti itu. Bila tidak ada yang menciptakan itu, mau jadi apa hidup kita?
Jadi, pantaslah kita menyebut mereka semua nabi. Dan saya kira, bila mereka terus berbuat baik dan tahu apa yang harus mereka perbuat dalam waktu mereka hidup di dunia ini, saya yakin... bila surga dan neraka memang ada... satu tiket ke surga sudah di-booking oleh mereka. Hahaha!!!!

Ya, mereka adalah nabi sekarang. Tapi, beberapa tahun kedepan mereka sudah jadi past lagi. Dan, kesempatan untuk menjadi nabi future pun terbuka lebar bagi siapapun kita. Masih sangat sangat amat sangat banyak yang bisa kita lakukan untuk semuanya di waktu kedepan.
Bukankah nantinya pencipta energi pengganti bahan bakar fosil bisa disebut nabi?
Bukankah nantinya orang yang berusaha untuk perdamaian di dunia ini juga bisa disebut nabi?
Masih banyak terbuka lebar. Jadi waktu yang sekarang ini, haruslah kita pergunakan untuk terus belajar dan belajar dan tetaplah rendah hati.
Dan lupakanlah saja agung - agungan kepada past nabi, karena memang tidaklah berguna hanya memuja - muja. Bukanlah lebih baik dan brilian bila berbuat sesuatu sekarang juga untuk masyarakat banyak dan dunia ini, yang semakin krtisis saja?

Hidup ini indah. Live it, or leave it.

The First Circle - dedicated to Indonesian Musicians

Akhir – akhir ini, saya kembali tergila – gila oleh lagu “First Circle” yang dikumandangkan Pat Metheny Group dalam album ‘First Circle’ (1984) yang berhasil meraih penghargaan Grammy dalam kategori Best Jazz Fusion Recording Vocal or Instrumental, yang merupakan penghargaan Grammy ketiga dari sepuluh yang berhasil mereka raih.

Saya memang menggilai Pat Metheny dan Grupnya. Lagu ‘First Circle’ ini memang jempolan. Pat Metheny, bermain gitar akustik dalam lagu ini. Sementara Lyle Mays memperlihatkan kemahiran piano dan keyboard-nya. Paul Wertico menggebuk drums dalam lagu ini, sementara Steve Rodby membetot bas dan vokalis Pedro Aznar yang menurut saya memiliki suara emas, menyanyi tanpa lirik.

Lagu ini memang amat sangat brilian, dan mungkin anda bisa mengakuinya setelah mendengarkan lagu ini, baik anda jazz-lover maupun bukan.

Tapi, saya menulis tulisan ini bukan untuk review lagu ini, saya ingin menulis, apa yang saya inginkan dari musisi Indonesia,

* * *

Pat Metheny Group, pengumpul 10 Grammy Awards dari 12 album mereka, memang besar dari andil Pat Metheny sang gitaris dan Lyle Mays sang keyboardist. Sementara itu, Pat Metheny sendiri mengumpulkan 17 Grammy (termasuk 10 Grammy di Pat Metheny Group) dari banyak kategori, selama kariernya dari tahun 1975.

Pat Metheny, gitaris kelahiran Kansas, 12 Agustus 1954 ini memang legenda di dunia jazz pada umumnya, dunia jazz kontemporer – fusion pada khususnya. Gitaris yang identik dengan baju setrip – setrip acap kali naik panggung ini, amat mahir memainkan segala gitar. Mulai dari gitar akustik, elektrik, bariton, soprano, 12 senar, 16 senar, synthesizer, hingga 42 senar.

Metheny, ini adalah salah satu lambang musisi yang drop – out dari pendidikan musik. Dia keluar dari salah satu universitas di kotanya, namun karena pengalamannya sejak kecil yang sering bermain jam session dengan bermacam – macam orkestra di kotanya dan luar kotanya, sehingga dia memiliki jam terbang yang sangat tinggi, dibandingkan teman – temannya di universitasnya.

Adalah vibraphonist terkenal Gary Burton, yang melihat bakat dan jam terbangnya, sehingga menawarkan ‘kerjaan’ dosen musik di University of Miami. Atas itulah, dia jadi dosen termuda di universitas itu, yakni 18 tahun. Tahun depannya, giliran ia mengajar di Berkeley College of Music. Sebagai info tambahan, gitar jazz Mike Stern adalah muridnya di Berkeley.

Mengajar adalah kerja sambilannya, karena dia juga terdaftar sebagai anggota Gary Burton Quartet, sebagai gitaris tentunya. Lalu, dia memutuskan keluar dan merintis karier solonya, dan menelurkan album pertamanya Bright Size Life bersama bassist kenamaaan Jaco Pastorius dan drummer Bob Moses. Album ini langsung menuai banyak pujian. Akhirnya, kapasitasnya pun semakin teruji, hingga dia pun melahirkan Pat Metheny Group bersama keyboardist temannya Lyle Mays.

Pat Metheny Group adalah band jazz fusion – kontemporer terbesar di dunia, tidak ada band jazz sebesar mereka. Hit – hit andalan mereka berkisar dari “Are You Going With Me?” hingga “Minuano (Six Eight). Mereka pun menuai 10 Grammy!

Oke, cukup dengan profilnya.

Lalu apa yang bisa kita petik dari karier Pat Metheny?

Adik kandung pemain flugel-horn Mike Metheny ini, terkenal sebagai musisi yang amat sangat kreatif, terus belajar, cerdas, konsisten dan cerdik di dunia.

Kreatif. Saya tidak bisa menghitung berapa lagu yang sudah dia ciptakan selama dia hidup. Semenjak dia gabung di Gary Burton Quartet, dia sudah menciptakan lagu buat grup tersebut hingga sekarang album – albumnya. Jikalau dia memakai lagu ciptaan orang lain (tidak termasuk lagu ciptaanya bersama Lyle Mays), itu hanya dirubah bagian improvisasinya saja.

Terus belajar. Pat tidak pernah puas akan kemampuan instrumentalisnya. Sejak album pertamanya muncul, dia sudah tahu bermain gitar akustik, elektrik, 12 senar, dan 16 senar, hingga gitar harpa. Namun, dia terus belajar dan belajar, hingga dia bisa menguasai gitar synthesizer (sangat sedikit gitaris yang mau menggunakan gitar ini, karena mencari sound di gitar ini amat sangat sulit), gitar synclavier, gitar slide, gitar baritone, gitar soprano, gitar sitar, hingga 42-senar gitar! Dia juga mempelajari gaya musik di daerah lain. Dia belajar komposisi musik di Eropa, Afrika, Kamboja, India, China, hingga Indonesia (gamelannya, yang bisa didengar di album Imaginary Day).

Dia juga seorang komposer yang hebat. Dia tidak hanya asal – asalan mencipta lagu, namun dia mencipta dengan cerdas. Jika anda mencoba bermain karya – karyanya, saya pastikan tangan anda bakal repot karena dia sangat gemar mengubah kord dan tempo yang sangat – sangat indah jika didengarkan.

Dua hal terakhir, adalah hal yang sangat membedakan Metheny dengan musisi jazz dan genre lainnya.

Konsisten dan cerdik.

Dia sangat konsisten. 120 – 240 rata – rata konser per tahun, siapa yang sanggup melakukannya begitu konsisten? Jika dibayangkan, hampir tiap hari dia melakukan konser dari tempat ke tempat! Namun, bukan berarti jadwal tur yang padat membuat pembuatan album macet. Jika ditilik dari karier solonya dimulai dan jumlah album yang ia buat, ia berkarier dari 1976 hingga sekarang, yaitu 32 tahun (sampai 2008 hitungannya), tapi jumlah albumnya sudah mencapai 36 album! Album itu belum termasuk album – album lain yang dia tampil sebagai guest musician semacam dia tampil di saxophonist alm. Michael Brecker, Anna Maria Jopek, Abbey Lincoln, dan lain sebagainya. Saya belum melihat artis lain di genre manapun yang bisa menyamai konsistensi Metheny.

Cerdik? Dia cerdik melihat pasar jazz dan dia cerdik memilih talenta.

Vibraphonist Gary Burton secara terang – terangan memujinya. “Dia seorang yang amat hebat di dunia jazz, dan juga bisa melihat pasar jazz hingga setiap albumnya nyaris sukses terus.”

Ya, sukses di pasaran dan juga di ajang Grammy Awards. Ini terbukti dari 17 Grammy Awards dan selalu mendapat platinum di album yang terjual.

Cerdik melihat talenta? Saya kira semua jazz-lover setuju dengan anggapan ini. Siapa yang tidak terpana seusai mendengar dan melihat talenta – talenta musisi yang direkrut Metheny, mulai Nana Vasconcelos, Pedro Aznar, Mark Ledford, hingga yang paling gress, Antonio Sanchez. Bisa jadi telinganya yang amat hebat men-judge kemampuan bermusik seseorang membuat kariernya sukses. Sebagai komparasi, Chick Corea kadangkala salah merekrut orang sehingga albumnya kadang – kadang keok.

* * * *

Ya, saya ingin sekali musisi – musisi Indonesia menjiwai kariernya seperti Pat Metheny. Benar – benar total di musik. Saya tidak peduli genre apapun, mau jazz, dangdut, hingga metal rock. Saya tidak peduli.

Saya amat menyayangkan budaya pop yang terjadi di dunia musik negara kita (dan juga terjadi di Hollywood sana). Siapa yang tidak kenal dulu band Slank, Jamrud, Sheila On 7, Padi, dan Dewa dulu, di jaman akhir 90-an. Namun sekarang? Jeblok.

Karena apa? Tidak konsisten. Mereka terlalu lama tidak membuat album, sekitar rentangan tiga tahun, sehingga fans bosan dan berpaling ke band dan musisi lain. Kecuali Dewa, yang masih tetap eksis dan saya salut dengan mereka karena mereka cukup konsisten, dan band ini bisa jadi role model di Indonesia.

Maka hadirlah Peterpan, Radja, Nidji. Mereka memang melejit, hingga ke negeri tetangga. Lagu – lagu jadi ‘lagu nasional’ hampir semua orang bisa menyanyikan lagu mereka secara fasih. Namun sekarang? Menukik.

Peterpan hancur gara – gara konflik di dalam tubuh mereka sendiri. Jika dibandingkan dengan Pat Metheny Group, yang kerap berganti – ganti personil, tapi mereka tetap akur karena pada falsafahnya, musisi jazz tidak boleh bermain pada itu – itu saja, mesti bermain dengan setiap orang. Intinya, “more jam session”.

Radja? Mereka tidak kreatif. Lagunya amat gampang, dan malah dituduh mencontek dari lagu di India sana. Mencontek boleh saja, tapi jangan mencontek benar – benaran! Mesti diimprovisasi! Bahkan, saya pernah mendengar lagu andalan mereka, yaitu ‘Tulus’ dan ‘Jujur’, dan saya berpikir bahwa kedua lagu ini sama persis, cuma beda lirik.

Nidji? Yah... Begitu – begitu saja. Sepertinya lagu mereka tidak terkonsep, dan semua fans hanya ngefans dengan vokalis Giring. Ini bukan musik namanya, tapi sinetron.

Dan kebanyakan musisi – musisi Indonesia memang begitu dan saya getir melihatnya. Jika anda perhatikan, musisi – musisi Indonesia hanya beken lewat satu – dua lagu, melesat, tenar, terus gara – gara tidak konsisten dan tidak berkonsep, langsung menukik tajam semacam meteor. Inilah yang saya sebut dengan budaya pop.

Maka dari itulah, saya meminta kepada semua musisi Indonesia, jadilah lebih kreatif. Tirulah nilai – nilai dari Pat Metheny, jikalau anda tidak suka musiknya.

Sangat jarang musisi yang bisa eksis dan stabil selama tiga puluh satu tahun.

Banyak – banyaklah bermain dengan banyak musisi, dan sebelum mendirikan band atau berkarier solo, tolonglah buatlah konsep.

Jangan jadikan dunia musik Indonesia hanya jadi budaya pop, musik pop, itu – itu saja. Bosan. Lirik selalu bernafaskan cinta.

Jadilah kreatif. Bikin musik yang lebih hidup, lain tema, tidak melulu cinta, dan tidak terus – terusan berkonsep band. Kalau perlu sekali – sekali, coba saja dirikan band dengan gamelan, kulintang, sama beduk. Wah, siapa tahu kalau memang konsepnya jelas, bisa meledak di Indonesia dan dunia!

Mestinya kita tahu, musik – musik tradisional Indonesia sangat banyak dan tidak terhitung, mengapa kita tidak mengeksplorasinya dan tidak melulu bermain musik pop? Kalaupun bisa, campurkanlah musik pop itu dengan tradisional, sehingga nama genre kalian jadi pop fusionjazz fusion). (seperti Pat Metheny yang amat gemar dengan

Kalau mau juga, mainkanlah jazz dan klasik, yang tidak sembarang orang bisa suka karena bukan easy listening. Jangan melulu bermain pop, rock, hip – hop, rap, yang kalau saya bilang musik tersebut sudah banyak yang bisa!

Saya tidak ingin, dunia musik kita jadi arena meteor. Banyak yang melesat, banyak juga yang menukik tajam. Saya ingin, ada musisi Indonesia jadi the first circle, yang melompat ke atas dan terus menggelinding di atas, dan nantinya diikuti jadi the next circle. Saya ingin melihat itu, dan saya juga berusaha menjadi itu.

Hidup musik Indonesia, dan stop pembajakan!

NB: Thanks for Pat Metheny, for the inspiration!