Akhir – akhir ini, saya kembali tergila – gila oleh lagu “First Circle” yang dikumandangkan Pat Metheny Group dalam album ‘First Circle’ (1984) yang berhasil meraih penghargaan Grammy dalam kategori Best Jazz Fusion Recording Vocal or Instrumental, yang merupakan penghargaan Grammy ketiga dari sepuluh yang berhasil mereka raih.
Saya memang menggilai Pat Metheny dan Grupnya. Lagu ‘First Circle’ ini memang jempolan. Pat Metheny, bermain gitar akustik dalam lagu ini. Sementara Lyle Mays memperlihatkan kemahiran piano dan keyboard-nya. Paul Wertico menggebuk drums dalam lagu ini, sementara Steve Rodby membetot bas dan vokalis Pedro Aznar yang menurut saya memiliki suara emas, menyanyi tanpa lirik.
Lagu ini memang amat sangat brilian, dan mungkin anda bisa mengakuinya setelah mendengarkan lagu ini, baik anda jazz-lover maupun bukan.
Tapi, saya menulis tulisan ini bukan untuk review lagu ini, saya ingin menulis, apa yang saya inginkan dari musisi Indonesia,
* * *
Pat Metheny Group, pengumpul 10 Grammy Awards dari 12 album mereka, memang besar dari andil Pat Metheny sang gitaris dan Lyle Mays sang keyboardist. Sementara itu, Pat Metheny sendiri mengumpulkan 17 Grammy (termasuk 10 Grammy di Pat Metheny Group) dari banyak kategori, selama kariernya dari tahun 1975.
Pat Metheny, gitaris kelahiran Kansas, 12 Agustus 1954 ini memang legenda di dunia jazz pada umumnya, dunia jazz kontemporer – fusion pada khususnya. Gitaris yang identik dengan baju setrip – setrip acap kali naik panggung ini, amat mahir memainkan segala gitar. Mulai dari gitar akustik, elektrik, bariton, soprano, 12 senar, 16 senar, synthesizer, hingga 42 senar.
Metheny, ini adalah salah satu lambang musisi yang drop – out dari pendidikan musik. Dia keluar dari salah satu universitas di kotanya, namun karena pengalamannya sejak kecil yang sering bermain jam session dengan bermacam – macam orkestra di kotanya dan luar kotanya, sehingga dia memiliki jam terbang yang sangat tinggi, dibandingkan teman – temannya di universitasnya.
Adalah vibraphonist terkenal Gary Burton, yang melihat bakat dan jam terbangnya, sehingga menawarkan ‘kerjaan’ dosen musik di University of Miami. Atas itulah, dia jadi dosen termuda di universitas itu, yakni 18 tahun. Tahun depannya, giliran ia mengajar di Berkeley College of Music. Sebagai info tambahan, gitar jazz Mike Stern adalah muridnya di Berkeley.
Mengajar adalah kerja sambilannya, karena dia juga terdaftar sebagai anggota Gary Burton Quartet, sebagai gitaris tentunya. Lalu, dia memutuskan keluar dan merintis karier solonya, dan menelurkan album pertamanya Bright Size Life bersama bassist kenamaaan Jaco Pastorius dan drummer Bob Moses. Album ini langsung menuai banyak pujian. Akhirnya, kapasitasnya pun semakin teruji, hingga dia pun melahirkan Pat Metheny Group bersama keyboardist temannya Lyle Mays.
Pat Metheny Group adalah band jazz fusion – kontemporer terbesar di dunia, tidak ada band jazz sebesar mereka. Hit – hit andalan mereka berkisar dari “Are You Going With Me?” hingga “Minuano (Six Eight). Mereka pun menuai 10 Grammy!
Oke, cukup dengan profilnya.
Lalu apa yang bisa kita petik dari karier Pat Metheny?
Adik kandung pemain flugel-horn Mike Metheny ini, terkenal sebagai musisi yang amat sangat kreatif, terus belajar, cerdas, konsisten dan cerdik di dunia.
Kreatif. Saya tidak bisa menghitung berapa lagu yang sudah dia ciptakan selama dia hidup. Semenjak dia gabung di Gary Burton Quartet, dia sudah menciptakan lagu buat grup tersebut hingga sekarang album – albumnya. Jikalau dia memakai lagu ciptaan orang lain (tidak termasuk lagu ciptaanya bersama Lyle Mays), itu hanya dirubah bagian improvisasinya saja.
Terus belajar. Pat tidak pernah puas akan kemampuan instrumentalisnya. Sejak album pertamanya muncul, dia sudah tahu bermain gitar akustik, elektrik, 12 senar, dan 16 senar, hingga gitar harpa. Namun, dia terus belajar dan belajar, hingga dia bisa menguasai gitar synthesizer (sangat sedikit gitaris yang mau menggunakan gitar ini, karena mencari sound di gitar ini amat sangat sulit), gitar synclavier, gitar slide, gitar baritone, gitar soprano, gitar sitar, hingga 42-senar gitar! Dia juga mempelajari gaya musik di daerah lain. Dia belajar komposisi musik di Eropa, Afrika, Kamboja, India, China, hingga Indonesia (gamelannya, yang bisa didengar di album Imaginary Day).
Dia juga seorang komposer yang hebat. Dia tidak hanya asal – asalan mencipta lagu, namun dia mencipta dengan cerdas. Jika anda mencoba bermain karya – karyanya, saya pastikan tangan anda bakal repot karena dia sangat gemar mengubah kord dan tempo yang sangat – sangat indah jika didengarkan.
Dua hal terakhir, adalah hal yang sangat membedakan Metheny dengan musisi jazz dan genre lainnya.
Konsisten dan cerdik.
Dia sangat konsisten. 120 – 240 rata – rata konser per tahun, siapa yang sanggup melakukannya begitu konsisten? Jika dibayangkan, hampir tiap hari dia melakukan konser dari tempat ke tempat! Namun, bukan berarti jadwal tur yang padat membuat pembuatan album macet. Jika ditilik dari karier solonya dimulai dan jumlah album yang ia buat, ia berkarier dari 1976 hingga sekarang, yaitu 32 tahun (sampai 2008 hitungannya), tapi jumlah albumnya sudah mencapai 36 album! Album itu belum termasuk album – album lain yang dia tampil sebagai guest musician semacam dia tampil di saxophonist alm. Michael Brecker, Anna Maria Jopek, Abbey Lincoln, dan lain sebagainya. Saya belum melihat artis lain di genre manapun yang bisa menyamai konsistensi Metheny.
Cerdik? Dia cerdik melihat pasar jazz dan dia cerdik memilih talenta.
Vibraphonist Gary Burton secara terang – terangan memujinya. “Dia seorang yang amat hebat di dunia jazz, dan juga bisa melihat pasar jazz hingga setiap albumnya nyaris sukses terus.”
Ya, sukses di pasaran dan juga di ajang Grammy Awards. Ini terbukti dari 17 Grammy Awards dan selalu mendapat platinum di album yang terjual.
Cerdik melihat talenta? Saya kira semua jazz-lover setuju dengan anggapan ini. Siapa yang tidak terpana seusai mendengar dan melihat talenta – talenta musisi yang direkrut Metheny, mulai Nana Vasconcelos, Pedro Aznar, Mark Ledford, hingga yang paling gress, Antonio Sanchez. Bisa jadi telinganya yang amat hebat men-judge kemampuan bermusik seseorang membuat kariernya sukses. Sebagai komparasi, Chick Corea kadangkala salah merekrut orang sehingga albumnya kadang – kadang keok.
* * * *
Ya, saya ingin sekali musisi – musisi Indonesia menjiwai kariernya seperti Pat Metheny. Benar – benar total di musik. Saya tidak peduli genre apapun, mau jazz, dangdut, hingga metal rock. Saya tidak peduli.
Saya amat menyayangkan budaya pop yang terjadi di dunia musik negara kita (dan juga terjadi di Hollywood sana). Siapa yang tidak kenal dulu band Slank, Jamrud, Sheila On 7, Padi, dan Dewa dulu, di jaman akhir 90-an. Namun sekarang? Jeblok.
Karena apa? Tidak konsisten. Mereka terlalu lama tidak membuat album, sekitar rentangan tiga tahun, sehingga fans bosan dan berpaling ke band dan musisi lain. Kecuali Dewa, yang masih tetap eksis dan saya salut dengan mereka karena mereka cukup konsisten, dan band ini bisa jadi role model di Indonesia.
Maka hadirlah Peterpan, Radja, Nidji. Mereka memang melejit, hingga ke negeri tetangga. Lagu – lagu jadi ‘lagu nasional’ hampir semua orang bisa menyanyikan lagu mereka secara fasih. Namun sekarang? Menukik.
Peterpan hancur gara – gara konflik di dalam tubuh mereka sendiri. Jika dibandingkan dengan Pat Metheny Group, yang kerap berganti – ganti personil, tapi mereka tetap akur karena pada falsafahnya, musisi jazz tidak boleh bermain pada itu – itu saja, mesti bermain dengan setiap orang. Intinya, “more jam session”.
Radja? Mereka tidak kreatif. Lagunya amat gampang, dan malah dituduh mencontek dari lagu di India sana. Mencontek boleh saja, tapi jangan mencontek benar – benaran! Mesti diimprovisasi! Bahkan, saya pernah mendengar lagu andalan mereka, yaitu ‘Tulus’ dan ‘Jujur’, dan saya berpikir bahwa kedua lagu ini sama persis, cuma beda lirik.
Nidji? Yah... Begitu – begitu saja. Sepertinya lagu mereka tidak terkonsep, dan semua fans hanya ngefans dengan vokalis Giring. Ini bukan musik namanya, tapi sinetron.
Dan kebanyakan musisi – musisi Indonesia memang begitu dan saya getir melihatnya. Jika anda perhatikan, musisi – musisi Indonesia hanya beken lewat satu – dua lagu, melesat, tenar, terus gara – gara tidak konsisten dan tidak berkonsep, langsung menukik tajam semacam meteor. Inilah yang saya sebut dengan budaya pop.
Maka dari itulah, saya meminta kepada semua musisi Indonesia, jadilah lebih kreatif. Tirulah nilai – nilai dari Pat Metheny, jikalau anda tidak suka musiknya.
Sangat jarang musisi yang bisa eksis dan stabil selama tiga puluh satu tahun.
Banyak – banyaklah bermain dengan banyak musisi, dan sebelum mendirikan band atau berkarier solo, tolonglah buatlah konsep.
Jangan jadikan dunia musik Indonesia hanya jadi budaya pop, musik pop, itu – itu saja. Bosan. Lirik selalu bernafaskan cinta.
Jadilah kreatif. Bikin musik yang lebih hidup, lain tema, tidak melulu cinta, dan tidak terus – terusan berkonsep band. Kalau perlu sekali – sekali, coba saja dirikan band dengan gamelan, kulintang, sama beduk. Wah, siapa tahu kalau memang konsepnya jelas, bisa meledak di Indonesia dan dunia!
Mestinya kita tahu, musik – musik tradisional Indonesia sangat banyak dan tidak terhitung, mengapa kita tidak mengeksplorasinya dan tidak melulu bermain musik pop? Kalaupun bisa, campurkanlah musik pop itu dengan tradisional, sehingga nama genre kalian jadi pop fusionjazz fusion).
Kalau mau juga, mainkanlah jazz dan klasik, yang tidak sembarang orang bisa suka karena bukan easy listening. Jangan melulu bermain pop, rock, hip – hop, rap, yang kalau saya bilang musik tersebut sudah banyak yang bisa!
Saya tidak ingin, dunia musik kita jadi arena meteor. Banyak yang melesat, banyak juga yang menukik tajam. Saya ingin, ada musisi Indonesia jadi the first circle, yang melompat ke atas dan terus menggelinding di atas, dan nantinya diikuti jadi the next circle. Saya ingin melihat itu, dan saya juga berusaha menjadi itu.
Hidup musik Indonesia, dan stop pembajakan!

No comments:
Post a Comment