13 May 2008

Ketika "Nike" jadi "Tienpo"

Tanggal 29 November 2007, saya berhasil mendapatkan student pass dari negara Singapura, dan artinya pun saya resmi dan diperbolehkan untuk menuntut ilmu disini. Wah, mimpi yang terombang - ambing selama kurang lebih empat bulan pun sampai juga. Saya bisa bersekolah disini, dan berharap bisa mencapai cita - cita saya.
Saya pulang dari imigrasi di daerah Lavender sana menggunakan jasa MRT (Mass Rapid Transit). Turun di stasiun Bedok, saya langsung melompat ke terminal bus yang sangat ramai. Maklum, Bedok bisa dikatakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, di bagian timur. Disini ada pasar, hawker centre, MRT station, terminal bus, sampai toko - toko kelontong. Harganya pun lumayan murah bagi ukuran Singapura.
Ketika berjalan tersebut ke terminal, saya melihat - lihat orang sekitar, dan pandangan saya tertancap kepada pasangan yang tengah berjalan mesra. Wah, memang orang Singapura sudah biasa dengan beginian. Never mind. Saya pun terus melihat mereka, dan tanpa sengaja penglihatan saya terpaku pada bagian belakang baju si cowok.
Dari jauh sudah terlihat, ada lambang centang, dan hampir semua orang tahu kalo ada lambang centang kayak gitu, itu logonya apparel terkenal dari Amerika Serikat, "Nike".
Ketika saya hendak menyalip pasangan yang kasmaran tersebut, bujugile, ternyata saya salah tangkap. Logo boleh sama, ternyata agak dipanjangin sedikit centangnya, dan di bawah logo tersebut terpampang nama China, "Tienpo".
Saya pun menyalip mereka, dan melihat sekejap bagian depan baju si cowok. Bajunya berwarna biru, dan memang desainnya mirip sekali dengan "Nike".
Saya pun tertawa kecil. Saya pun jadi ingat negara di Asia Timur sana, yang berpenduduk milyaran itu, dan memang sekarang mereka maju. Tapi, ironis, jadi pusat 'bajakan' dunia.
Masih segar di ingatan saya, dimana ketika saya berlibur ke Beijing di Agustus 2006, dan Shenzen di Juli 2007, dan tentu saja banyak sekali barang tiruan disana.
Teringat jelas! Bagaimana merek terkenal dan kesukaan saya, "Adidas" berubah jadi "Abidas" dan tetap dengan three stripes - Adidas yang dipatenkan itu.
Belum lagi, mainan favorit saya saat kelas SD, yaitu "Tamiya". Brand itu berasal dari Jepang dan jadi primadona di mainan mobil - mobilan berdinamo anak kecil dan remaja. Tapi, oleh negeri Tirai Bambu secara singkat dirubah jadi "Tamida".
Bahkan, secara nekat pula, banyak sekali brand - brand yang namanya tidak diubah dan buat palsuannya, Semuanya. Mulai dari barang kecil sampai besar!
Saya dan kakak saya jadi korbannya. Tergiur dengan i-pod yang dijual hanya 50 Yuan saja (Rp 50 ribu). Desainnya memang sangat mirip! Bahkan kotaknya ditulis "from Apple in America". Wah, keyakinan saya tambah berlipat ganda. Tetapi seusai sampai di Indonesia, i-pod keluaran China itu hanya bertahan seminggu.
Ketika saya "berkonsultasi" masalah ini kepada paman saya, dengan santai dia berkata dengan bahasa jawa. "Wong cino iku gak iso nggawe sing elemen-e cilik - cilik. Lek nang asia Jepang iku sing teruji. Lek cino, yo ojo dituku. Mereka iso nggawe sing gede - gede, elek pisan!" Jika diterjemahkan: "Orang China itu tidak bisa membuat yang elemennya kecil - kecil. Kalo di Asia, Jepang itu yang sudah teruji. Kalau (buatan) China, ya jangan dibeli. Mereka itu bisanya membuat yang besar - besar, tapi jelek juga!"
Hahaha!!!

Dasar "made in China!"

* * *

Barang buatan China memang sudah menyerbu ke seluruh dunia. Dari pensil, permen, sampai mobil. Sasarannya tidak hanya di benua Asia sendiri, tapi juga menyebrang ke Eropa, Australia, Amerika, dan Afrika.
Di sisi buruk, saya turut mencela mereka membuat barang - barang tiruan yang kualitasnya amat sangat buruk.
Di sisi baik, saya kagum pada mereka. Karena, mereka dulu 'divonis' jadi negara miskin total, namun sekarang jadi pusat bisnis dan perdagangan. Bahasa Mandarin milik mereka pun didaulat jadi 'bahasa perdagangan'.
Tapi saya tidak kaget juga, China itu bak naga yang tertidur, dan kini pun sudah terbangun. Saya jadi saksi mata mereka ketika berkunjung ke negara mereka dalam rangka liburan. Bolehlah saya bilang, mereka hampir memiliki semuanya.
Sejarah mereka terkuat. Tidak salah bila mereka dikatakan salah satu sejarah tertua di dunia, disamping Mesir dan Yunani.
Orang - orangnya sangat banyak. Milyaran, penduduk terbanyak di dunia.
Saya melihat bagaimana kota Beijing yang begitu padat.
Turis - turis terus berdatangan, bahkan tidak ada istilah 'low season' , karena buat mereka semuanya 'high season'
Mengapa turis berdatangan? Objek - objek wisata mereka memang jempolan. Dari Tembok Besar, Summer Palace, sampai Ming's Tomb memang selalu membuat saya menggeleng - gelengkan kepala.
Olahraga? Bulutangkis mereka nomor satu.
Dan sekarang ekonomi mereka bangkit...
Olimpiade Beijing 2008 pun kurang dari setahun...

Lalu, apakah yang bisa kita petik sebagai keuntungan dari kebangkitan 'naga' ini?

* * *

China tentu mengirim 'barang - barang' mereka melalui jalur laut. Dan tentunya, kita sebagai negara yang memiliki laut luas, bisa memetik keuntungan dari sini.
Jalan sutera tentu tidak bisa lagi dipakai oleh China untuk mengirimkan barang mereka. Dan mereka, kemungkinan besar, memakai Selat Melaka untuk jalan menuju Eropa dan Timur Tengah. Lalu, mengapa tidak kita siapkan pelabuhan untuk persinggahan mereka, tepatnya pelabuhan kargo yang nyaman dengan harga bersaing dari Singapura dan Malaysia?
Saya kira hal ini amat penting untuk dipikirkan. Mengingat letak geografis yang amat menguntungkan Indonesia.
Sejak dahulu kita belajar, bahwa letak geografis Indonesia sangatlah strategis. Di antara samudera Hindia dan Pasifik, serta diantara Benua Asia dan Australia. Lantas, buat apalah terus memuja tersebut bila tidak ada bukti yang konkrit?
Mestinya kapal - kapal penuh 'barang tiruan' dari China yang menuju ke Eropa, India, atau Timur Tengah itu, harus bisa bersinggah di Indonesia.
Singgah bukan berarti gratis lho, tapi sekali singgah, duit bertaburan buat Indonesia.

No comments: