13 May 2008

Ujian Nasional -Langkah Mundur Indonesia?

Ujian Nasional 2008 untuk jenjang SMA dan SMP sudah berakhir di Indonesia, tetapi beban para siswa - siswi yang masih duduk di jenjang kelas 3 SMP dan 3 SMA juga belumlah berakhir. Mereka masih harus menatap Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan juga Ujian Praktek, yang diselenggarakan sekolah mereka masing - masing.

Ujian Nasional adalah sebuah ujian yang menjadi indikator kemampuan murid - murid se-Indonesia, indikator yang dipakai pemerintah untuk melihat bagaimana wajah pendidikan Indonesia sekarang.

Tetapi bila indikator itu hanya berupa empat hari ujian dengan masing - masing ujian terdiri dari 50 soal pilihan berganda apakah itu sebuah indikator paling tepat untuk pendidikan kita, yang semakin hari semakin mundur? Sejauh apakah ujian nasional itu membantu wajah pendidikan Indonesia ini?

Saya sangatlah heran, mengapa pemerintah kita hanya mementingkan hasil yang instan ketimbang proses. Mereka gemar menghambur - hamburkan uang untuk soal ujian nasional ketimbang membenahi sistem pendidikan dan infrastruktur di seluruh Indonesia.

Jika penentu kelulusan seorang siswa dari SMP dan SMA hanyalah dari Ujian Nasional yang berupa 50 soal pilihan berganda, tidaklah mengherankan bila sekolah sekarang berubah fungsi, dari tempat belajar-mengajar menjadi tempat untuk latihan soal. Jika semua pelajar di Indonesia hanya berlatih soal di sekolah, lalu dimanakah proses belajar mengajar itu akan ada? Dan dimana pula bibit - bibit unggul itu tercipta bila sistemnya tidak memadai seperti ini?

Soal ujian nasional itu adalah pilihan berganda dan jelas saja, soal itu bisa sukses bila kita rajin menghafal bahan - bahan dengan sepenuh hati. Sialnya, menghafal adalah proses belajar tingkat paling rendah. Artinya, siswa di Indonesia mungkin hanya mumpuni dalam kemampuan menghafal saja. Tingkat tertinggi dari belajar adalah evaluasi dan memberi penyelesaian dalam suatu masalah. Dimana, soal ini tidak bisa saya temukan dalam ujian nasional tahun berapapun.

Membaca artikel di Kompas (12 Mei 2008), saya membaca seorang kritikus mengkritik tentang ujian nasional Bahasa Indonesia. Bagi saya, ini masuk akal. Yang namanya ujian bahasa, semua peserta ujian harus menulis, membaca, dan berbicara! Ujian nasional dikatakan mengetes ketiga aspek tersebut, padahal jika diteliti hanya aspek membaca saja. Jadi, tidak bisa kita bilang kalau seorang siswa hebat di Bahasa Indonesia karena lulus Ujian Nasional, padahal dua aspek lain tidak dites secara mumpuni.

Ujian matematika pun setali tiga uang. Kalau dilihat dari prinsip kehidupan dan matematika, hasil akhir itu sebenarnya tidak begitu penting. Aspek paling penting itu adalah aplikasinya. Apakah siswa di Indonesia mampu mengaplikasikan pelajaran matematika ke dalam kehidupan mereka? Sayangnya, di ujian nasional, mereka hanya diuji untuk mendapatkan hasil akhir dan tidak jelas pula caranya bagaimana.

Sistem ujian ini jika saya lihat sangatlah berbeda dengan sistem ujian negara tetangga kita, Singapura. Saya sudah bersekolah disini selama hampir 6 bulan dan saya melihat betapa berbedanya kualitas ujian di Singapura. Ujian mid-semester disini bahkan jauh lebih menantang (saya tidak mengatakan susah) ketimbang ujian nasional di Indonesia!

Kita contohkan saja ujian matematika. Di Singapura, tidak ada namanya pilihan ganda dalam ujian matematika. Tiap peserta ujian diberi dua kertas soal, yang mesti dikerjakan. Kertas pertama hanyalah soal yang bisa dikatakan 'straightforward', dimana kita tinggal mengaplikasikan rumus atau memencet kalkulator saja. Kertas yang kedua, siswa diberikan soal yang menguji konsep pemikiran kita. Bila kita tidak tahu konsep dan tidak bisa berpikir kreatif, maka tamatlah perjuangan kita. Ujian nasional di Indonesia sungguh kontras, para peserta ujian hanya diberikan 50 pilihan ganda dengan waktu yang panjang pula. Mereka pun memiliki waktu yang banyak untuk menghitung dan mengecek berulang kali.

Jika kita melihat ujian di Singapura, sistem pendidikan mereka jelas merangsang mereka untuk berpikir kreatif dan tidak hanya sekedar hafalan saja. Pemerintah Singapura sadar benar, bila pendidikan itu sangat penting bagi sebuah negara. Sekolah di SIngapura sangatlah megah dan fasilitasnya amat lengkap. Tentu, ini bertolak belakang bila kita lihat sekolah di Indonesia, dimana di daerah terpencil mereka pun tidak memiliki bangunan yang memadai.

Ada baiknya pemerintah untuk sekarang memperhatikan pendidikan kita. Nasib bangsa ini ditentukan oleh generasi penerus yang masih bersekolah sekarang. Bila mereka tidak bisa berpikir kreatif karena tidak dibiasakan, dan malah cenderung membebek karena belajar hafalan, mau dibawa kemana bangsa ini?

Untuk saat ini, yang paling penting buat Indonesia bukanlah ekonomi, pemerintahan, perdagangan, konflik tidak jelas, dan lain-lain. Yang terpenting sekarang adalah pendidikan. Ada baiknya pemerintah menghapus lelucon ujian nasional dan mulailah membenahi infrastruktur pendidikan di Indonesia. Saya percaya sekali, orang Indonesia itu sangat pintar, tapi sayang sistem pendidikannya tidak memadai.

Maju, Indonesiaku!

No comments: