13 September 2008

Bagi Singapura, Medali Itu Masih Ditunggu....

Olimpiade musim panas Beijing 2008 memang sudah lama selesai. China menunjukkan bahwa mereka adalah sebuah negara besar dengan menjadi juara umum. Michael Phelps, perenang asal Amerika Serikat, membuktikan bahwa dia adalah olimpian terbesar sepanjang masa,dimana dia berhasil mengumpulkan 8 medali emas di olimpiade Beijing (7 medali emas diantaranya diwarnai dengan pemecahan rekor dunia) dan total 14 medali emas dan 2 medali perunggu sepanjang kariernya. Anak muda asal Jamaika, Usain Bolt, mengguncang dunia setelah mendulang tiga medali emas dari cabang atletik, ditambah oleh pemecahan rekor dunia dari nomor lari 100 m yang menobatkan dirinya sebagai manusia tercepat di bumi.

Bagi Indonesia, hasil yang diraih juga tidak bisa dikatakan jelek. Kita patut berterima kasih kepada Markis Kido dan Hendra Setiawan, yang mampu meraih medali emas satu - satunya dengan cara menumbangkan pemain tuan rumah di final bulutangkis ganda putra. Medali perak yang diraih oleh pasangan ganda campuran bulutangkis kita, Lilyana Natsir dan Nova Widianto juga patut dibanggakan. Medali perunggu yang diraih Maria Kristin di cabang bulutangkis tunggal putri membuat kita bisa berbangga hati, karena sudah lama kita tidak meraih medali dari atlet putri kita. Jasa dua atlet angkat besi kita yang juga mampu mendapatkan medali perunggu, tidak boleh kita lupakan. Secara total, 1 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu mampu kita raih. Perolehan ini hanya kalah dari negara Asia Tenggara lainnya, Thailand yang mampu mendulang 2 emas. Negara tetangga kita yang lain, Malaysia dan Singapura hanya mampu membawa pulang 1 medali perak.

Berbicara tentang perolehan medali Singapura, arti medali perak itu sangat besar bagi mereka. Itulah medali pertama mereka sejak tahun 1960, dan medali perak itulah yang menjadi medali olimpiade kedua mereka sepanjang sejarah. Medali perak itu dapat diraih setelah tim tenis meja putri mereka mampu mencapai final tenis meja beregu putri sebelum akhirnya kalah dari favorit juara China.

Medali pertama sejak 48 tahun mestinya disambut dengan gegap gempita di seluruh Singapura. Tapi, saya hanya melihat, pemerintahan saja yang gembira dengan hasil ini. Ada apa gerangan?

Rupanya yang meraih medali itu bukanlah orang asli Singapura, tapi naturalisasi dari China. Pantaslah bila medali yang diraih itu tidak sepenuhnya milik Singapura.

Simak saja, apa yang dikatakan beberapa orang Singapura. "Buat saya, kami (orang Singapura) masih menunggu untuk mendapat medali..."

Ketika saya tanya teman - teman saya, bagaimana rasanya setelah mendapatkan medali untuk pertama kalinya dalam 48 tahun, ini reaksinya:
"Hahaha... Kamu aneh, final tenis meja itu kan China lawan China, pemain kita kan dari China."
"Saya tidak bangga, lebih bagus kita menunggu untuk 52 tahun ke depan..."
"Saya lebih memilih kita tidak dapat medali."
"Lebih bagus anak India yang dapat medali buat Singapura!"

Yah, bagi Singapura memang medali itu masih ditunggu... Kita lihat, atlet mereka hampir semuanya hasil naturalisasi.

Untunglah bagi kita, Indonesia yang memang hancur begini, setidaknya bisa menjaga tradisi meraih medali (medali emas malah!) sejak olimpiade 1992. Bagi Singapura, meraih satu medali begitu beratnya....

Ayo berbangga!

No comments: