17 September 2008

Masa Depan Hubungan Agama dan Sains

Sebuah eksperimen sains terbesar dan termahal sepanjang masa sebentar lagi akan dimulai di Jenewa, Swiss. Eksperimen yang menghabiskan dana US$ 8 miliar, 27 kilometer terowongan, dan membutuhkan tenaga dan pikiran 9000 ilmuwan di seluruh dunia (kecuali Amerika Serikat), itu bernama The Large Hadron Collider (LHC).

Kontroversi yang muncul pun berhubungan dengan ketidaksediaan Amerika Serikat dalam bekerjasama dalam proyek yang ingin membongkar lebih jauh apa yang terdapat dalam atom itu. Eksperimen yang diprediksi bakal mendekati absolute zero atau 0 derajat kelvin itu memang tidak dikerjakan bersama Amerika Serikat. Tetapi, saya tidak ingin mengupas itu. Saya juga kurang peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya. Saya ingin menulis hal ini, seakan - akan saya berdiskusi dengan Steven Weinberg, ilmuwan Amerika Serikat yang meraih nobel fisika atas jasanya dalam mempelajari interaksi weak force dan elektromagnetik dalam partikel.

Coba kita renungkan, pada zaman dahulu dimana sains masih belum berkembang pesat, kita lebih suka menjawab sesuatu yang belum kita ketahui (baca: misterius) dengan jawaban yang amat religius. Dahulu kala, terjadinya api, kematian, hujan, kelahiran, atau matahari itu masih teka - teki. Jawaban yang dahulu diterima adalah itu semua terjadi karena kehendak Tuhan.

Sekarang pun kita sudah tahu, mengapa pula matahari itu bersinar karena panas yang diproduksi oleh konversi hydrogen yang luar biasa banyak ke helium di pusat matahari. Kita pun paham bahwa hujan itu terjadi karena siklus pergerakan air di bumi. Itu semua bukan karena kehendak yang luar biasa!

Waktu pun terus berlalu, dan kita sudah semakin fasih dalam menjelaskan mengapa sesuatu itu terjadi dalam penjelasan yang sangat naturalistik. Ini bukan berarti bertentangan dengan agama, tetapi yang jelas itu mencabut sesuatu yang dahulu sangat erat kaitannya dengan keberadaan agama.

Pada masa sekarang dan juga masa depan, dimana perkembangan sains akan bertambah pesat dan itu artinya pun akan membongkar banyak sekali rahasia alam, ada titik tertentu dimana kita pun tidak perlu menjelaskan hal - hal yang terjadi dalam definisi agama, melainkan dalam definisi sains.

Saya yakin akan terjadi banyak sekali kontroversial. Mungkin ada religius fanatik yang menolak bahwa hal itu terjadi, dan masih bersikeras menjelaskan bahwa matahari itu bersinar karena kehendak Tuhan, bukan gara - gara konversi hydrogen ke helium. Saya tidak mengatakan agama itu tidak penting atau omong kosong karena semuanya nantinya bisa dijawab pada definisi sains. Bagi banyak sekali orang, agama itu akan menenangkan hati. Agama bisa jadi pegangan hidup. Tetapi, bagi orang peraih nobel seperti Wienberg, yang merupakan yahudi atheis, dia merasa sains akan merusak ritme agama.

Saya sendiri tidak yakin dengan pikirannya, boleh saja kita meniru beberapa sekte di Eropa. Agama hanya akan menyentuh hal - hal yang bersifat pribadi dan rohani, tetapi beberapa kejadian yang terjadi di alam nyata atau pun asal - usul dunia ini dan kehidupan, lebih bagus diserahkan kepada sains.

Agama itu memang pilihan dan relatif, tetapi sains itu definitif.

Semoga ini bisa menjadi bahan pemikiran dan perenungan bagi kita, dan semoga tulisan ini bisa dimengerti!

NB : Terima kasih kepada Steven Weinberg, atas pemikirannya yang revolusioner, meskipun anda atheis dan yahudi!

1 comment:

Anonymous said...

pada dasarnya agama tetap berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang ada.
tapi itu semua tergantung dari sudut pandang orang yang memikirkannya.
orang yang berilmu tanpa agama itu bagaikan orang buta, bisa pergi ke manapun yang dia mau akan tetapi ia tidak tau tujuannya.
sedangkan orang yang beragama baik tanpa ilmu itu seperti orang yang tidak buta tetapi tidak bisa berjalan, sehingga dia tidak bisa pergi ke mana" walau tahu tujuannya ke mana.

saya yakin antara agama dan ilmu pengetahuan memiliki kaitan yang erat dan tidak dapat berjalan efektif dengan menghilangkan salah satunya. pada kenyataannya banyak manusia yang cerdas justru tidak beragama karena merasa yakin bahwa semua hal yang terjadi dapat dijelaskan dengan teori, hanya menunggu masalah waktu saja.

saya tidak bermaksud untuk memihak ke agama tertentu, tetapi sebenarnya dari kitab suci sudah dicantumkan tentang hal-hal yang membangun keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan agama.
pada kitab suci tersebut tertulis bahwa manusia diciptakan dari tanah. mungkin kita tidak dapat langsung mengartikan tanah dengan arti yang sebenarnya.
setelah dipelajari, ternyata unsur" yang ada di dalam manusia dapat ditemukan di tanah seperti karbon dkk. apabila kitab tersebut diturunkan ratusan ataupun ribuan tahun yang lalu, maka tidak mungkin bagi manusia untuk menemukan hal tersebut pada saat itu karena unsur" sendiri belum ditemukan.
hal-hal semacam ini dapat memperkuat bukti keterkaitan antara agama dan ilmu pengetahuan.

hal di atas merupakan salah satu contoh dari sekian banyak keterkaitan antara agama dan ilmu pengetahuan. bisa jadi akan ada banyak perbedaan pandangan mengenai hal ini.

semoga ada suatu hal yang dapat diambil dari pemikiran saya ini :DDD