21 September 2008

Jangan Lagi Melupakan Unsung Hero(es)!

Dari dua hal yang sangat saya gemari, yaitu sepakbola dan musik jazz, muncul dua nama terfavorit dari dua bidang tersebut. Klub Liverpool FC dari cabang sepakbola, sementara Pat Metheny Group dari musik jazz.

Saya sangat menyukai Liverpool FC dan Pat Metheny Group. Keduanya boleh dikatakan sebagai salah satu yang tersukses di bidangnya masing - masing. Liverpool FC adalah tim sepakbola tersukses di Inggris, dengan raihan 18 gelar liga domestik dan 5 kali juara Eropa. Peraihan ini belum bisa disamai oleh klub - klub Inggris lainnya. Sementara Pat Metheny Group bisa dibilang grup musik jazz paling sukses di dunia. Peraihannya tidak main - main, yaitu gelar 11 Grammy, dimana 7 diantaranya diraih secara berurutan.

Lalu kita bicara tentang orang yang berkaitan dengan Liverpool FC atau Pat Metheny Group. Bila kita berbicara tentang Liverpool, pasti nama yang langsung muncul adalah Steven Gerrard sang kapten, tidak Jamie Carragher yang merupakan wakil kapten. Bila berbicara tentang Pat Metheny Group, tentulah nama Pat Metheny yang akan muncul (namanya saja dipajang di nama grup!), bukan sang keyboardist Lyle Mays.

Di klub Liverpool FC, nama Steven Gerrard memang sudah menjadi figur wajib. Sang kapten memang telah berjasa mengantarkan Liverpool menjuarai Liga Champions Eropa pada musim kompetisi 2005. Jasanya pun tidak akan pernah dilupakan fans manapun, karena dia menginspirasi klubnya untuk membalikkan keadaan tertinggal 0-3 dari AC Milan menjadi kemenangan Eropa. Tentulah, Gerrard pantas dan wajar menjadi orang yang paling diingat di Liverpool FC, ketimbang Jamie Carragher.

Tetapi saya tidak bisa pula melupakan nama Carragher, tidak seperti banyak orang yang memang benar - benar memandang sebelah mata Carragher. Dia adalah seorang bek yang cukup kuat dan berpengaruh. Cintanya terhadap Liverpool FC sangatlah besar, dan mungkin lebih besar daripada Gerrard sendiri!

Saya masih ingat ketika Carragher ditanyai wartawan sepakbola, atas rumor pindahnya dia ke Real Madrid pada tahun 2005. Ketika ditanya apakah dia ingin pindah ke Madrid, yang notabene tim yang sangat kaya di dunia, dia malah balik bertanya ke wartawannya. "Mengapa saya pindah? Adakah tim lain yang lebih besar dan lebih saya cintai daripada Liverpool?" Itu membuktikan secara konkrit cintanya kepada tim Liverpool sangatlah besar!

Dan cukup banyak orang yang tidak mengetahui, kemenangan Liverpool di final bukan hanya jasa dari Steven Gerrard, Jerzy Dudek (sang kiper penyelamat), maupun Rafael Benitez sang pelatih. Carragher juga ambil bagian besar dalam pertandingan tersebut. Dia secara mati - matian membantu pertahanan Liverpool, dia pun beroperasi sebagai bek tengah sekaligus bek sayap kanan. Banyak juga fans yang tidak mengetahui, bahwa Dudek yang berhasil menggagalkan dua penalti AC Milan di babak adu penalti, terinspirasi dari kata-kata motivasi Carragher. Dudek mengaku bahwa Carragher mengatakan kepadanya, bahwa inilah saatnya Dudek menjadi pahlawan. "Buatlah dirimu menjadi pahlawan! Kacaukan konsentrasi mereka! Goyangkan kakimu seperti Bruce Grobbelaar (mantan kiper Liverpool yang membantu timnya menjadi juara Liga Champions Eropa tahun 1984)!"

Carragher membuktikan cintanya yang besar kepada Liverpool, tapi dia tidak perlu spotlight dari media. Dia merupakan unsung hero di Liverpool.

Lalu bagaimana dengan Lyle Mays? Prestasi dan jasanya di Pat Metheny Group dan dunia musik benar - benar ditutupi oleh sinar terang benderang koleganya, Pat Metheny. Namun, tanpa kehadiran Lyle, Pat Metheny Group akan menjadi grup jazz luar biasa saja, tidak grup jazz luar luar biasa!

Lyle memiliki visi yang sangat luas dalam hal bermusik. Empat hobinya yang sangat prestigius, yaitu musik, matematika, catur, dan arsitektur, membawanya memiliki pikiran dan visi musikalitas yang luas. Lyle memang tidak seterkenal keyboardist lainnya, tetapi penghargaan yang dia miliki pun sangat mentereng! 11 Grammy telah dia kantongi dan itu tergolong sangat banyak bagi under-rated musician sepertinya.

Pat Metheny Group memang identik dengan Pat Metheny, tetapi Lyle Mays adalah arsitek di balik semua itu. Tuts - tuts piano dan keyboardnya seperti orkestra dan pengiring yang sangat baik bila Pat Metheny melakukan killer solo. Tetapi bukan berarti Lyle tidak menunjukkan kualitasnya sebagai solois, lihat saja karyanya di lagu "As Falls Wichita, So Falls Wichita Falls", "Imaginary Day", "Are You Going With Me?" dimana dia melakukan solo synthesizers! Saya kira hal - hal ajaib seperti itu tidak akan terjadi tanpa Lyle Mays.

Bagi saya, Pat Metheny adalah seseorang yang hebat dan brilian. Tapi Lyle adalah seorang yang jenius. Tanpa kehadiran Lyle, Pat Metheny memang masih hebat dan bagus. Tapi Lyle membantunya dalam memasukki dimensi musik yang lebih dalam dan luas.

Di sekitar kita, banyak sekali unsung heroes. Mungkin orang tersebut juga tidak membutuhkan penghargaan atau menjadi terkenal. Tetapi, mereka harus kita acungi jempol dan menghargai karya mereka. Seperti saya menghargai Jamie Carragher dan Lyle Mays.

Semoga tulisan ringan ini bisa membuat kita berpikir! :)

No comments: